aman-bermotor

Kecelakaan seakan menjadi aktivitas yang tak kenal henti terjadi dikehidupan yang penuh dengan kontroversi. Kecelakaan seolah menjadi sesuatu hal yang biasa dan tak akan pernah hilang meskin ditelan jaman.

Angka kecelakaan dinegara ini semakin hari semakin memburuk, tidak hanya angka kecelakaan yang terus bertambah dan tak kenal surut, angka kematianpun seakan terus memanas dan diperparah dengan berita hangat yang tak sedap untuk didengarkan. Selain itu, masyarakat seakan harus memilih 2 pilihan dari kejadian ini yang mana dari kedua pilihan ini tak ada satupun yang ingin kita rasakan, yaitu istirahat dirumah sakit atau istirahat dirumah idaman para umat yang hidup (alam kubur).

“Cukuplah maut sebagai pelajaran dan keyakinan sebagai kekayaan”. Pepatah ini seakan terbantahkan dihati nurani, kita sering melihat dan mendengar hal buruk terjadi dikehidupan orang lain, tetapi kita tidak pernah dan mencoba belajar untuk merubah keburukan tersebut. Bahkan tradisi negeri ini sangatlah parah, kita memang ingin melakukan kebaikan kepada orang lain, tetapi kita lupa dengan keamanan orang lain.

Kematian memang pasti akan hadir, tidak ada seorangpun yang mampu menolak dan menunda akan hadirnya sosok pencabut kehidupan dunia. Disaat semua itu hadir, kita hanya harus bias menerima 2 kenyataan, bisa hidup abadi dalam kenikmatan dan menghirup aroma kebahagiaan surga, atau malah hidup kekal dalam kesengsaraan neraka.

Ada 1 tradisi yang menarik dinegeri ini, disaat seseorang telah menuju ajalnya, segerombolan orang langsung beramai-ramai menghadiri rumah sang duka untuk bersama-sama mengurus pemakaman orang tersebut. Mulai dari memandikan sang jenazah, mengkafani jenazah, hingga mengatar jenazah kerumah impiannya selama hidup. Dari segelintir tradisi itu, ada tradisi yang seharusnya tak dilakukan oleh orang-orang tersebut, yaitu pada saat arak-arakan jenazah. Segerombolan manusia beramai-ramai mengantar jenazah tanpa memikirkan orang lain, bahkan memikirkan keselamatan dirinya sendiri.

Sekumpulan orang tersebut seakan menjadi satuan brigade tempur yang siap untuk menyerang tempat pemakaman. Mereka tak mengenal siapa didepan mereka dan apa yang akan terjadi pada diri mereka sendiri. Kumpulan brigade ini seakan tak kenal menyerah untuk menghadapi lautan lalu lintas yang tak kenal henti menyerang keselamatan mereka. Layaknya seorang polisi lalu lintas, mereka seolah-olah menjadi raja jalanan yang seakan jalan milik Negara tersebut adalah milik mereka sendiri.

Tetapi saya tak ingin menyebut mereka sebagai sosok polisi jalanan, karena polisi jalanan disaat sedang mengawal mereka tahu akan ketertiban dalam berlalu lintas, sedangkan pasukan brigade iring-iringan jenazah ini tak seperti itu. Disaat sedang mengiringi jenazah, mereka tak kenal ketertiban. Membawa motor tanpa helm, menutup jalan seolah polisi yang sedang mengawal sang pemimpin negeri dan menjalani kendaraan tanpa kenal garis pembatas jalan seolah sudah biasa mereka lakukan. Memang ini adalah suatu hal yang baik, karena kita ingin jenazah yang kita antarkan tersebut sampai dengan selamat ditempat persinggahan terakhirnya, tetapi pernah kita terpikirkan akan keselamatan orang lain ?

Dalam undang-undangan nomor 22 tahun 2009 tentang lalu lintas pasal 134 memang tercantum ‘bahwa pengguna jalan yang memperoleh hak utama untuk didahulukan’ salah satunya adalah iring-iringan pengantar jenazah. Tetapi meskipun itu tercantum didalam undang-undang lalu lintas, terus kita diperbolehkan mengiring jenazah tanpa mengenal keselamatan diri sendiri dan orang lain ?

Mari kita search isi undang-undang lalu lintas yang lain, yaitu pasal 106 ayat 8 yang berisi ‘setiap orang yang mengemudikan sepeda motor dan penumpang sepeda motor WAJIB mengenakan helm yang memenuhi standar nasional Indonesia’. Terus apa hukuman bagi yang melanggar aturan tersebut ?. Undang-undang lalu lintas pasal 291 ayat 1 dan 2 menjelaskan dengan sangat detail hukumannya, yaitu :

Pasal 291 ayat 1 : ‘Setiap orang yang mengemudikan Sepeda Motor tidak mengenakan helm standar nasional Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 106 ayat (8) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) bulan atau denda paling banyak Rp250.000,00 (dua ratus lima puluh ribu rupiah).’

Pasal 291 ayat 2 : Setiap orang yang mengemudikan Sepeda Motor yang membiarkan penumpangnya tidak mengenakan helm sebagaimana dimaksud dalam Pasal 106 ayat (8) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) bulan atau denda paling banyak Rp250.000,00 (dua ratus lima puluh ribu rupiah).’

Baik, itu hanya segelintir dari isi undang-undang lalu lintas yang sering dilanggar oleh para pengiring jenazah, tetapi coba kita renungkan, disaat kita sedang sedang mengiring jenazah tiba-tiba terjadi sesuatu hal yang tak teduga, dalam artian kita menabrak orang lain, apa yang akan terjadi ?, Mari kita buka kembali undang-undang lalu lintas ini. Mungkin kita tidak pernah membaca pasal ini bahkan tidak mengetahui isi dari pasal ini, maka dari itu dikesempatan kali ini saya ingin membagi informasi agar kita sama-sama belajar betapa berharganya menjaga keselamatan diri sendiri dan orang lain, mari kita buka isi dari pasal 310.

Pasal 1. Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor yang karena kelalaiannya mengakibatkan Kecelakaan Lalu Lintas dengan kerusakan Kendaraan dan/atau barang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 229 ayat (2), dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) bulan dan/atau denda paling banyak Rp1.000.000,00 (satu juta rupiah).

Pasal 2. Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor yang karena kelalaiannya mengakibatkan Kecelakaan Lalu Lintas dengan korban luka ringan dan kerusakan Kendaraan dan/atau barang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 229 ayat (3), dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan/atau denda paling banyak Rp2.000.000,00 (dua juta rupiah).

Pasal 3. Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor yang karena kelalaiannya mengakibatkan Kecelakaan Lalu Lintas dengan korban luka berat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 229 ayat (4), dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp10.000.000,00 (sepuluh juta rupiah).

Pasal 4.   Dalam hal kecelakaan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) yang mengakibatkan orang lain meninggal dunia, dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp12.000.000,00 (dua belas juta rupiah).

Jadi mulai sekarang mari kita bersama-sama belajar untuk menghargai orang lain lain, jalan lalu lintas yang kita lalui bukanlah milik nenek moyang kita sendiri, tetapi semua aset yang ada didunia ini adalah aset milik nenek moyang kita semua. Orang mati tidak selamanya akan mati dan ia tidak akan bias hidup kembali, kecuali kalau yang maha kuasa menghendakinya. Kematian memang akan hadir dikehidupan siapapun, dimanapun dan kapanpun, tetapi meskipun begitu, kita harus mampu menjaga bersama-sama. Jangan karena kita ingin berbuat baik dari mengantar orang meninggal, malah justru itu berakibat dikehidupan kita sendiri, dalam artian malah kita yang justru akan di iringi segerombolan manusia kerumah impian.

Mari ubah tradisi yang buruk itu mulai sekarang, karena tidak ada kata terlambat untuk berubah. Penulis juga seseorang yang suka ngebut dijalan, tetapi penulis juga ingin merubah itu semua agar tak membahayakan orang lain.

uje-jenazah-41