Assalamuallaikum.wr.wb

Terkadang, kesejukan itu tidak pernah lepas dari sosok sang angin dan terkadang pula sang api tidak bisa padam tanpa hadirnya air untuk menyelimuti kobarannya. Begitu dengan sebuah perasaan cinta, yang terkadang hadir untuk menenangkan hati disaat hati sedang hancur tanpa abu, tapi terkadang dia juga hadir disaat hati sedang tersenyum dengan indahnya. Perasaan cinta adalah perasaan yang mampu merubah hal yang negatif berubah menjadi suatu hal yang positif, begitupun sebaliknya.

Tiupan dan hembusan kata-kata manis yang terlontarkan seakan dikendalikan oleh perasaan cinta tersebut, dimana kita awalnya bukan seseorang yang romantis, tiba-tiba berubah menjadi seseorang yang rela untuk mengorbankan harkat dan martabatnya demi orang yang dia cinta. Seseorang yang memiliki sifat yang sentimental dan kasar, tiba-tiba berubah menjadi seseorang yang anggun dan berubah menjadi sosok yang pendiam, langit yang awalnya gelap tak berpijar, mampu berubah drastic menjadi langit yang cerah, seakan-akan tak mengenal waktu kapan akan berubahnya. Begitupun dengan orang yang tak pernah menginggat akan tuhannya, setelah dia jatuh cinta kepada seseorang yang beriman dan beramal baik, tiba-tiba tanpa adanya angin dia berubah menjadi seseorang yang selalu mengingat penciptanya.

Disebuah rumah di kota Jazirah Arab 1400 tahun silam, Abdullah bin Abu Bakar baru saja melangsungkan pernikahan dengan Atikah binti Zaid. Atikah adalah seorang wanita cantik rupawan dan berbudi luhur. Dia seorang wanita berakhlak mulia, cerdas, dan berkedudukan tinggi. Tentu saja, Abdullah sangat mencintai istri yang sangat sempurna menurut pandangan manusia tersebut.

Hingga pada suatu hari, ayahnya Abu Bakar lewat dirumah Abdullah untuk pergi bersama-sama shalat berjama’ah di masjid. Namun, apabila terlihat oleh Abu Bakar bahwa anaknya sedang bermesraan dengan istrinya dengan lembut dan romantic, Abu Bakar membatalkan niatnya dan meneruskan perjalanan ke masjid.

Setelah selesai menunaikan shalat, Abu Bakar sekali lagi melalui jalan dirumah anaknya tersebut. Alangkah kesalnya Abu Bakar apabila beliau sedang mendapati anaknya masih bermesraan dengan istrinya, seperti sebelum beliau menunaikan shalat dimasjid. Kemudian Abu Bakar segera memanggil Abdullah dan di bertanya, “Wahai Abdullah, apakah kamu sudah shalat berjama’ah ?”. Tanpa berkata-kata dengan panjang Abu Bakar kepada anaknya. “Wahai Abdullah, Atikah telah melalaikan kamu dari kehidupan dan pandangan hidup, malahan dia juga telah melupakan kamu dari shalat fardhu, ceraikanlah dia”. Demikianlah perintah Abu Bakar kepada Abdullah. Suatu perintah ketika Abu Bakar mendapati anaknya telah melalaikan hak Allah, ketika beliau mendapati Abdullah mulai sibuk dengan istrinya yang cantik. Ketika beliau melihat Abdullah terpesona dengan keindahan dunia sehingga menyebabkan semangat juang terhadap ibadahnya semakin luntur.

Tanpa membuat dalih, apalagi sampai mencoba bunuh diri. Abdullah terus mengikuti perintah ayahandanya dan menceraikan istri yang cantik dan amat dicintainya. Subhanallah.

Itulah buktinya betapa besarnya Allah sang maha pencipta segalanya dan sang maha pemberi segalanya. Allah lah yang telah menciptakan perasaan cinta dan Allah pula yang telah memberikan perasaan tersebut kepada ciptaannya. Perasaan cinta hanyalah perasaan yang diberikan oleh Allah Swt untuk memberikan kita bukti betapa besar cinta yang dimilikinya terhadap makhluknya. Dari cerita Abdullah diatas telah membuktikan, bahwa cinta mampu merubah sifat yang awalnya beriman, berubah menjadi sifat yang melupakan keimanannya tersebut. Semoga kita tidak termasuk orang-orang yang seperti itu. Amien.

Tetaplah berpegang teguh pada syarihat Islam, karena cinta yang dimiliki oleh Allah Swt melebihi cinta yang dimiliki manusia, keindahan yang dimiliki oleh Allah Swt, melebihi keindahan dunia yang hanya sesaat ini.

Wassalamuallaikum.wr.wb