Langit yang berpijak diatas daratan, seakan tak henti-hentinya menampakan bentuknya. Bumi yang berputar, seakan tak henti-hentinya mengarungi nusantara dunia ini. Matahari yang bersinar, seakan tak berhenti memberikan simbol kehidupan. Hati yang ada pada diri ini, seakan tak berhenti merasakan semua rasa sakit dan bahagia yang selalu bergejolak bagaikan sebuah badai.

Gombalan yang selalu kita lontarkan saat bertemu, seakan menumbuhkan butir-butir kebahagiaan. Tawa, canda dan rayuan yang aku ucapkan, selalu kau balas dengan senyum keabadian dari bibirmu. Ketulusan dan kebaikanmu, seakan membuka pintu kesetiaan yang ada pada diri ini.

Hari demi hari kita lalui bersama, meskipun hanya sesaat. Detik-detik yang kita lalui itu, akan terbayang didalam penakku ini. Aku tak menyadari ini harus terjadi, tak akan adalagi kesetiaanmu selama ini yang selalu aku harapkan didalam hidupku ini.

16 Juni, seakan menjadi saksi awal hubungan kita, menit-menit saat bersamamu, seakan menutupi dan melupakan kata perpisahan. Burung jemaripun bernyanyi dengan indahnya, anginpun terasa begitu menusuk tubuh ini dan memberikan kesejukan pada bak nurani. Akan tetapi itu hanya berlangsung sesaat saja, 19 Juni adalah hari yang paling menghancurkan semua binari ku. Tetapi kenangan dihari kemarin, seakan tak sanggup diriku untuk melupakannya, walaupun kenangan itu hanya berlangsung beberapa hari, tapi bagiku perjalanan itu seakan terus berjalan tak kenal hentinya.

Air mata yang mengalir diwajah ini, terus menyasat hati yang tak mau dan terus memaksa diri ini untuk tetap bertahan dengan dirimu. Hati yang telah remuk ini, seakan tak mau pulih lagi bila tak ada dirimu yang mengisi hati ini. Tubuh ini tak mau bergerak kemanapun, seakan hanya ingin tetap tegak dan terus menunggu sampai dirimu kembali kesisi hati ini.

Cinta yang kau berikan, akan selalu aku kenang dan aku sangat berharap cintamu itu akan kembali kepadaku lagi. Amien

 

You The Best For Me And For My Life.

 

20 Juni 2012

Muhammad Dhoifullah