VIVAnews – Sebuah kelompok asal Israel mengancam akan menggugat Twitter. Gugatan akan diajukan sebagai langkah hukum untuk menuntut Twitter menutup paksa akun yang dikelola kelompok Hizbullah, yang dikategorikan sebagai kelompok teroris oleh Amerika Serikat dan Israel.

Seperti dikutip dari laman The Telegraph, Lembaga yang bernama Shurat HaDin (Pusat Hukum Israel, lembaga non-pemerintah yang bergerak di bidang hukum), membuat surat tuntutan kepada Twitter untuk memblokir akses Hizbullah, kelompok al Shahaab, dan “Kelompok Teroris” lainnya.

“Mohon dipahami bahwa menyediakan media sosial dan layanan lain kepada kelompok teroris adalah ilegal dan akan menyebabkan Twitter Inc, dan pegawainya terancam pidana kriminal dan pelanggaran sipil terhadap warga negara Amerika dan korban terorisme lain yang dilakukan Hizbullah, al Shahaab, dan Organisasi Teroris Asing lain,” tulis surat dari Shurat HaDin.

Adapun akun yang dimaksud adalah @Almanarnews, yang dikelola oleh stasiun televisi Hizbullah di Lebanon. Shurat HaDin menyebut tweet yang dilakukan akun semacam @Almanarnews menyebarkan propaganda.

Twitter, menurut Shurat HaDin, melanggar Supreme Court 2010 di AS, yang melarang asistensi atau memberikan bantuan terhadap organisasi yang dibuat Departemen Luar Negeri AS.

“Hizbullah dan jaringan terorisnya telah masuk ke jaringan global melalui media sosial untuk menyebarkan agenda pembunuhan mereka,” ucap Nitsana Darshan-Leitner, Direktur Eksekutif Shurat HaDin.

“Twitter harus bertanggung jawab terhadap platformnya, untuk mengenali teroris, menangani, dan menutup secepat mungkin. Mereka gagal dan secara terbuka memperlihatkan kegagalannya itu,” lanjut Nitsana.

Kelompok Israel itu mengancam akan melakukan langkah hukum, jika Twitter tidak segera melakukan konfirmasi tertulis telah menutup akun milik kelompok yang dianggap teroris oleh Shurat HaDin. Tapi hingga saat ini Twitter belum menjawab ancaman Shurat HaDin.

Di Amerika sendiri telah terdapat permintaan untuk menutup akun Twitter yang mendukung Taliban. Permintaan ini antara lain diucapkan Joe Lieberman, kepala Komite Keamanan Dalam Negeri di Senat AS.

Twitter sendiri sebelumnya telah mengatakan hanya akan menutup akun yang tidak sesuai syarat layanan (terms of service), dan mendukung kebebasan berekspresi. Pelanggaran terhadap syarat layanan itu antara lain seperti impersonasi atau meniru orang lain, juga terhadap tweet yang mengancam orang lain. (umi)

• VIVAnews