Keperawanan Hilang, Musnahkah Masa Depan Seorang Wanita ?

4 Komentar

Assalamuallaikum.wr.wb

Saya menulis ini atas dasar memberikan solusi dan saran untuk kemajuan kita semua, bukan atas dasar menghina, mengejek, dll. Apabila dalam tulisan ini terdapat kata-kata yang tidak sesuai dan juga apabila tulisan ini membuat anda marah dan emosi saya sangat meminta maaf. Sekali lagi tulisan ini hanya untuk memberikan motivasi dan jawaban, bukan bermaksud untuk memperburuk keadaan anda.

Pasti anda semua bertanya-tanya kenapa saya membuat tulisan seperti ini, itu dikarenakan di zaman modern sekarang ini apa saja bisa terjadi, termasuk hal yang disebut dengan SEX BEBAS. SEX BEBAS biasanya terjadi di kalangan muda, masa-masa pacaran biasa nya dijadikan suatu kesempatan untuk para Remaja bersenang-senang dengan pasangannya tanpa memikirkan apa yang akan terjadi di masa depan kelak. Seperti yang kita ketahui bahwasan nya Sex Bebas adalah perbuatan yang paling dilarang, baik itu dalam segi Hukum Agamis maupun Hukum Negara. Di dalam islam perbuatan ini biasanya di sebut dengan ZINA yang berarti segala bentuk perbuatan antara laki-laki dan perempuan yang tidak terikat hubungan pernikahan, dalam hal ini adalah suatu aktivitas Seksual yang dapat merusak kehormatan manusia. Biasanya orang-orang yang melakukan suatu perzinaan pasti beralasan bahwasannya mereka saling mencintai, yang jadi pertanyaan, apakah orang yang saling mencintai itu harus melakukan suatu perzinaan ???

Allah Swt bersabda dalam Al-Qur’an surat Al – Isro’ (17) : 32 :

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk”

Di dalam surat An – Nur (24) : 30 Allah Swt bersabda :

“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: ” Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”

Akan tetapi yang menjadi pertanyaan kita adalah, seorang wanita yang telah terenggut keperawanannya oleh seorang pacaranya dengan alasan saling cinta, dll. Apakah mereka masih memiliki masa depan ?

Jawabanya cukup singkat, yaitu “ADA“.

Seorang wanita yang telah hilang keperawanannya pasti akan menjadi olok-olok’an orang-orang, karena orang-orang beranggapan bahwa seorang wanita yang telah hilang keperawanannya pasti tidak ada yang mau menjadi pasangan hidupnya. Oh itu tidak benar, meskipun keperawananan hilang sekalipun, pasti akan masih tetap mendapatkan pasangan hidup, Ingatlah “JODOH DITANGAN TUHAN“, apapun bisa terjadi apabila Allah Swt telah berkehendak. Akan tetapi dengan 1 hal, yaitu Berusaha, jangan karena Allah Swt telah menakdirkan manusia berpasang-pasangan terus kita menyerahkan itu semua kepada Allah Swt, itu adalah jawaban yang sangat salah. Ingatlah, apabila seorang pria telah mencintai dan menyayangi seorang wanita, pria tersebut pasti tidak peduli dengan keperawanan wanita tersebut, sebab pria tersebut mencintai wanita tersebut apa adanya bukan karena keperawanannya.

Untuk seorang wanita harus ada beberapa hal yang harus kalian ingat, yaitu perbedaan antara PRIA dan COWOK, Pria adalah seseorang yang memiliki pola pemikiran jauh lebih dewasa, bijaksana dan mampu mandiri, sedangkan seorang cowok itu biasanya pola pemikirannya masih ke kanak-kanak’an dan memiliki sifat yang belum bisa di sebut remaja.

Akan tetapi yang menjadi kendala sekarang bagi seorang pria adalah mereka harus memiliki Keberanian dan Kejujuran yang besar, apakah mereka berani menanyakan masalah keperawanan wanita yang di cintainya tersebut. Tidak hanya pria yang harus memiliki Keberanian dan Kejujuran yang besar, seorang wanita pun harus memiliki Keberanian dan Kejujuran yang jauh lebih besar karena harus mengatakan yang sebenarnya akan aib mereka.

Jadi untuk para wanita yang telah hilang keperawanannya untuk tidak menyerah menjalankan kehidupan ini. Tetaplah semangat, di sana masih banyak pria yang menerima kalian apa adanya dan tetaplah tawakal dan jangan pernah kalian meninggalkan kewajiban Allah Swt, karena segala sesuatu bisa saja terjadi apabila Allah Swt telah berkehendak Dan untuk kalian yang masih gadis (masih perawan), tetap jagalah keperawanan kalian, dengan menjaga keperawanan kalian, maka masa depan kalianpun akan jauh lebih baik.

Ada tambahan untuk para pria. Terimalah orang yang kalian cintai apa adanya, baik wanita tersebut telah hilang keperawanan nya, karena mencintai seseorang apa adanya jauh lebih baik dari pada mencintai seseorang karena ada apa nya ^_^

Keep Spirit Living A Life Of This.

Mungkin ini saja tulisan dari saya, apabila ada salah-salah kata yang menyinggung dan tidak enak untuk dibaca saya meminta maaf, kepada Allah Swt saya mohon ampun.

Wassalamuallaikum.wr.wb

Iklan

Kemuliaan Wanita

Tinggalkan komentar

Kaum feminis bilang susah jadi wanita (baca: muslimah), lihat saja peraturan dibawah ini:

1. Wanita auratnya lebih susah dijaga (lebih banyak) dibanding lelaki.

2. Wanita perlu meminta izin dari suaminya apabila mau keluar rumah tetapi tidak sebaliknya.

3. Wanita saksinya (apabila menjadi saksi) kurang berbanding lelaki.

4. Wanita menerima warisan lebih sedikit daripada lelaki.

5. Wanita perlu menghadapi kesusahan mengandung Dan melahirkan anak.

6. Wanita wajib taat kepada suaminya, sementara suami tak perlu taat pada isterinya.

7. Talak terletak di tangan suami Dan bukan isteri.

8. Wanita kurang dalam beribadat karena adanya masalah haid Dan nifas yang tak Ada pada lelaki.

Itu sebabnya banyak yang berpromosi untuk “MEMERDEKAKAN WANITA”. and look,,,, .

1. Benda yang mahal harganya akan dijaga dan dibelai serta disimpan ditempat yang teraman Dan terbaik. Sudah pasti intan permata tidak Akan dibiarkan terserak bukan? Itulah perbandingannya dengan seorang wanita.

2. Wanita perlu taat kepada suami. Bahwa sesungguhnya lelaki wajib taat kepada ibunya 3 kali lebih utama daripada kepada bapaknya.

3. Wanita menerima warisan lebih sedikit daripada lelaki, tetapi bahwa harta itu menjadi milik pribadinya Dan tidak perlu diserahkan kepada suaminya. Sementara apabila lelaki menerima warisan, ia perlu/wajib juga menggunakan hartanya untuk isteri Dan anak-anak.

4. Di akhirat kelak, seorang lelaki akan mempertanggungjawab kan terhadap 4 wanita, yaitu : isterinya, ibunya, anak perempuannya dan saudara perempuannya. Artinya, bagi seorang wanita tanggung jawab terhadapnya ditanggung oleh 4 orang lelaki, yaitu : suaminya, ayahnya, anak lelakinya Dan saudara lelakinya.

5. Wanita perlu bersusah payah mengandung dan melahirkan anak, tetapi bahwa setiap saat dia didoakan oleh segala makhluk, malaikat dan seluruh makhluk ALLAH di muka bumi ini, dan tahukah jika ia mati karena melahirkan adalah syahid dan surga menantinya.

6. Seorang wanita boleh memasuki pintu syurga melalui pintu surga yang mana saja yang disukainya, cukup dengan 4 syarat saja, yaitu: shalat 5 waktu, puasa di bulan Ramadhan, taat kepada suaminya dan menjaga kehormatannya.

7. Seorang lelaki wajib berjihad fisabilillah, sementara bagi wanita jika taat akan suaminya, serta menunaikan tanggungjawabnya kepada ALLAH, maka ia akan turut menerima pahala setara seperti pahala orang pergi berjihad fisabilillah tanpa perlu mengangkat senjata.

Masya ALLAH!

Demikian sayangnya ALLAH pada wanita.

Ingat firmanNya, bahwa mereka tidak akan berhenti melakukan segala upaya, sampai kita ikut/tunduk kepada cara-cara/peraturan yang diproduct.

Bahwa sebagai dzat yang Maha Pencipta, yang menciptakan kita, maka sudah pasti Ia yang Maha Tahu akan manusia, sehingga segala hukumNya/peraturanN ya, adalah YANG TERBAIK bagi manusia dibandingkan dengan segala peraturan yang dibuat manusia. Jagalah isterimu karena dia perhiasan, pakaian dan ladangmu, sebagaimana Rasulullah pernah mengajarkan agar kita (kaum lelaki) berbuat baik selalu (gently) terhadap isterimu.

Adalah sabda Rasulullah bahwa ketika kita memiliki dua atau lebih anak perempuan, mampu menjaga dan mengantarkannya menjadi muslimah Yang baik, maka surga adalah jaminannya. Berbahagialah wahai para muslimah. Tunaikan dan menegakkan agamamu, niscaya surga menanti.

Semoga bermanfaat

Silahkan SHARE ke rekan anda jika menurut anda note ini bermanfaat.

Source :2lisan.com

Shared By Catatan Catatan Islami Pages

Jujur Dan Amanah Dalam Islam

Tinggalkan komentar

Jujur adalah sifat penting bagi Islam. Salah satu pilar Aqidah Islam adalah Jujur. Jujur adalah berkata terus terang dan tidak bohong. Orang yang bohong atau pendusta tidak ada nilainya dalam Islam. Bahkan bisa jadi orang pendusta ini digolongkan sebagai orang yang munafik. Orang-orang munafik tergolong orang kafir. Nauzubillah.

Allah berfirman:

وَمِنَ النَّاسِ مَن يَقُولُ آمَنَّا بِاللّهِ وَبِالْيَوْمِ الآخِرِ وَمَا هُم بِمُؤْمِنِينَ
يُخَادِعُونَ اللّهَ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلاَّ أَنفُسَهُم وَمَا يَشْعُرُونَ
فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٌ فَزَادَهُمُ اللّهُ مَرَضاً وَلَهُم عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ

Artinya:
Di antara manusia ada yang mengatakan: “Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian,” pada hal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman.
Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar.
Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.
[Qur’an Suran Al-Baqarah ayat 8 sampai 10]

Kalau seandainya ummat Islam seorang pendusta, tidak jujur, tentunya ketika ia menyatakan beriman, maka imannya sangat rapuh untuk dipercaya, karena orangnya tidak amanah atau dapat dipercaya karena telah dianggap pendusta.

Bapak-bapak ibu-ibu remaja serta anak-anak sekalian.

Memang kita diciptakan manusia ini dua jalan. Jalan kejahatan dan jalan kebaikan.

Firman Allah ta’ala:

فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا

Artinya:
maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. [Qur’an Surat As-syam ayat 8]

Firman Allah lagi:

وَهَدَيْنَاهُ النَّجْدَيْنِ
فَلَا اقْتَحَمَ الْعَقَبَةَ

Artinya:
Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan Tetapi dia tiada menempuh jalan yang mendaki lagi sukar. [Qur’an Surat AL-Balad ayat 10 dan 11]

Yang dimaksud dengan “dua jalan” ialah jalan kebajikan dan jalan kejahatan.
Jalan kejahatan adalah jalan yang mudah dan enak dikerjakan, tetapi jalan kebaikan dan kebajikan adalah jalan yang sulit, mendaki lagi sukar. Kalau kita memilih jalan kebaikan, kebajikan. Inilah jalan yang diridhoi Allah subhanahu wata’ala, dan orang yang berada dijalan ini akan mendapat ganjaran dari allah subhanahu wata’ala. Tetapi jalan kebaikan ini tidak mudah, sulit lagi sukar.

وَمَا أَدْرَاكَ مَا الْعَقَبَةُ
فَكُّ رَقَبَةٍ
أَوْ إِطْعَامٌ فِي يَوْمٍ ذِي مَسْغَبَةٍ
يَتِيماً ذَا مَقْرَبَةٍ
أَوْ مِسْكِيناً ذَا مَتْرَبَةٍ

Artinya:
Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu?
(yaitu) melepaskan budak dari perbudakan,atau memberi makan pada hari kelaparan, (kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat, atau kepada orang miskin yang sangat fakir.
[Qur’an Surat Al-Balad ayat 12 sampai 16]

Demikianlah jalan kebaikan yang harus orang-orang mu’min tempuh dan selalu bersabar berada dijalannya sama seperti kita puasa dibulan ramadhan ini tetap sabar dalam menjalankan ibadah dan segala kebaikan dan kebajikan yang kita amalkan selama dalam bulan Ramadhan.

Perbuatan baik dijalan yang baik tersebut diantaranya juga bersikap jujur. Jujur dalam segala perbuatan dan perbuatan kita. Karena orang yang terbiasa tidak jujur akan selalu menjadi serentetan kebohongan berikutnya yang lambat laun menjadi kebiasaan, dan dicaplah sebagai pembohong atau pendusta, nauzubillah.

Hadits nabi membawa pesan nabi salallohu alaihi wasalam tentang kejujuran adalah:

عليكم بصدق٫ فإنما الصدق يهدى إلى بّر٫ إنّ برّ يهدى إلى الجنّة٫ وإنّ كذب يهدى فجور فإنّ فجور يهدى إلي النار
[رواه متفقٌ عليه]

Artinya :
Selalulah kamu jujur, karena sesungguhnya jujur itu mengantarkan kamu pada kebaikan dan kebaikan itu sesungguhnya mengantarkan pada surga. Sedangkan dusta akan mengantarkan pada keburukan dan dosa, dan sesungguhnya dosa itu akan mengantarkan pada neraka. [Hadits: Mutafaqun Alaih]

Oleh sebab itu hendaklah kita akan senantiasa jujur. Dan dikatakan kita sebagai orang yang jujur. Orang jujur ada kemungkinan akan teguh dalam memegang amanah. Sedangkan orang yang pendusta atau tidak jujur sama sekali tidak bisa memegang amanah.

Jujur dan amanah adalah serangkaian sifat yang perlu kita sikapi. Sebagaimana rasulullah adalah seorang yang mempunyai sifat jujur, terpercaya [Amanah]. Oleh sebab itu kita patut menjadikan Rasulullah sebagai suri tauladan yang baik.

Sebagaimana Firman allah ta’ala:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيراً

Artinya:
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. [Qur’an Surat Al-Ahzab ayat 21]

Demikian yang dapat saya sampaikan lebih dan kurang saya mohon ma’af wabilahi taufiq wal hidayah wasalaamu ‘alaikum warahmatullahi wabarokaatuh.

Sumber : http://semangatislam.blogspot.com/

Memilih Pasangan Idaman Menurut Sunnah Rasulullah

8 Komentar

Terikatnya jalinan cinta dua orang insan dalam sebuah pernikahan adalah perkara yang sangat diperhatikan dalam syariat Islam yang mulia ini. Bahkan kita dianjurkan untuk serius dalam permasalahan ini dan dilarang menjadikan hal ini sebagai bahan candaan atau main-main.

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

ثلاث جدهن جد وهزلهن جد: النكاح والطلاق والرجعة

“Tiga hal yang seriusnya dianggap benar-benar serius dan bercandanya dianggap serius: nikah, cerai dan ruju.’” (Diriwayatkan oleh Al Arba’ah kecuali An Nasa’i. Dihasankan oleh Al Albani dalam Ash Shahihah)

Salah satunya dikarenakan menikah berarti mengikat seseorang untuk menjadi teman hidup tidak hanya untuk satu-dua hari saja bahkan seumur hidup, insya Allah. Jika demikian, merupakan salah satu kemuliaan syariat Islam bahwa orang yang hendak menikah diperintahkan untuk berhati-hati, teliti dan penuh pertimbangan dalam memilih pasangan hidup.

Sungguh sayang, anjuran ini sudah semakin diabaikan oleh kebanyakan kaum muslimin. Sebagian mereka terjerumus dalam perbuatan maksiat seperti pacaran dan semacamnya, sehingga mereka pun akhirnya menikah dengan kekasih mereka tanpa memperhatikan bagaimana keadaan agamanya. Sebagian lagi memilih pasangannya hanya dengan pertimbangan fisik. Mereka berlomba mencari wanita cantik untuk dipinang tanpa peduli bagaimana kondisi agamanya. Sebagian lagi menikah untuk menumpuk kekayaan. Mereka pun meminang lelaki atau wanita yang kaya raya untuk mendapatkan hartanya. Yang terbaik tentu adalah apa yang dianjurkan oleh syariat, yaitu berhati-hati, teliti dan penuh pertimbangan dalam memilih pasangan hidup serta menimbang anjuran-anjuran agama dalam memilih pasangan.

Setiap muslim yang ingin beruntung dunia akhirat hendaknya mengidam-idamkan sosok suami dan istri dengan kriteria sebagai berikut:

1. Taat kepada Allah dan Rasul-Nya

Ini adalah kriteria yang paling utama dari kriteria yang lain. Maka dalam memilih calon pasangan hidup, minimal harus terdapat satu syarat ini. Karena Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian adalah yang paling bertaqwa.” (QS. Al Hujurat: 13)

Sedangkan taqwa adalah menjaga diri dari adzab Allah Ta’ala dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Maka hendaknya seorang muslim berjuang untuk mendapatkan calon pasangan yang paling mulia di sisi Allah, yaitu seorang yang taat kepada aturan agama. Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam pun menganjurkan memilih istri yang baik agamanya,

تنكح المرأة لأربع: لمالها ولحسبها وجمالها ولدينها، فاظفر بذات الدين تربت يداك

“Wanita biasanya dinikahi karena empat hal: karena hartanya, karena kedudukannya, karena parasnya dan karena agamanya. Maka hendaklah kamu pilih wanita yang bagus agamanya (keislamannya). Kalau tidak demikian, niscaya kamu akan merugi.” (HR. Bukhari-Muslim)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

إذا جاءكم من ترضون دينه وخلقه فزوجوه إلا تفعلوه تكن فتنة في الأرض وفساد كبير

“Jika datang kepada kalian seorang lelaki yang kalian ridhai agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah ia. Jika tidak, maka akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang besar.” (HR. Tirmidzi. Al Albani berkata dalam Adh Dho’ifah bahwa hadits ini hasan lighoirihi)

Jika demikian, maka ilmu agama adalah poin penting yang menjadi perhatian dalam memilih pasangan. Karena bagaimana mungkin seseorang dapat menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, padahal dia tidak tahu apa saja yang diperintahkan oleh Allah dan apa saja yang dilarang oleh-Nya? Dan disinilah diperlukan ilmu agama untuk mengetahuinya.

Maka pilihlah calon pasangan hidup yang memiliki pemahaman yang baik tentang agama. Karena salah satu tanda orang yang diberi kebaikan oleh Allah adalah memiliki pemahaman agama yang baik. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين

“Orang yang dikehendaki oleh Allah untuk mendapat kebaikan akan dipahamkan terhadap ilmu agama.” (HR. Bukhari-Muslim)

2. Al Kafa’ah (Sekufu)

Yang dimaksud dengan sekufu atau al kafa’ah -secara bahasa- adalah sebanding dalam hal kedudukan, agama, nasab, rumah dan selainnya (Lisaanul Arab, Ibnu Manzhur). Al Kafa’ah secara syariat menurut mayoritas ulama adalah sebanding dalam agama, nasab (keturunan), kemerdekaan dan pekerjaan. (Dinukil dari Panduan Lengkap Nikah, hal. 175). Atau dengan kata lain kesetaraan dalam agama dan status sosial. Banyak dalil yang menunjukkan anjuran ini. Di antaranya firman Allah Ta’ala,

الْخَبِيثَاتُ لِلْخَبِيثِينَ وَالْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَاتِ وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ

“Wanita-wanita yang keji untuk laki-laki yang keji. Dan laki-laki yang keji untuk wanita-wanita yang keji pula. Wanita-wanita yang baik untuk laki-laki yang baik. Dan laki-laki yang baik untuk wanita-wanita yang baik pula.” (QS. An Nur: 26)

Al Bukhari pun dalam kitab shahihnya membuat Bab Al Akfaa fid Diin (Sekufu dalam agama) kemudian di dalamnya terdapat hadits,

تنكح المرأة لأربع: لمالها ولحسبها وجمالها ولدينها، فاظفر بذات الدين تربت يداك

“Wanita biasanya dinikahi karena empat hal: karena hartanya, karena kedudukannya, karena parasnya dan karena agamanya. Maka hendaklah kamu pilih karena agamanya (keislamannya), sebab kalau tidak demikian, niscaya kamu akan merugi.” (HR. Bukhari-Muslim)

Salah satu hikmah dari anjuran ini adalah kesetaraan dalam agama dan kedudukan sosial dapat menjadi faktor kelanggengan rumah tangga. Hal ini diisyaratkan oleh kisah Zaid bin Haritsah radhiyallahu ‘anhu, seorang sahabat yang paling dicintai oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dinikahkan dengan Zainab binti Jahsy radhiyallahu ‘anha. Zainab adalah wanita terpandang dan cantik, sedangkan Zaid adalah lelaki biasa yang tidak tampan. Walhasil, pernikahan mereka pun tidak berlangsung lama. Jika kasus seperti ini terjadi pada sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, apalagi kita?

3. Menyenangkan jika dipandang

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits yang telah disebutkan, membolehkan kita untuk menjadikan faktor fisik sebagai salah satu kriteria memilih calon pasangan. Karena paras yang cantik atau tampan, juga keadaan fisik yang menarik lainnya dari calon pasangan hidup kita adalah salah satu faktor penunjang keharmonisan rumah tangga. Maka mempertimbangkan hal tersebut sejalan dengan tujuan dari pernikahan, yaitu untuk menciptakan ketentraman dalam hati.

Allah Ta’ala berfirman,

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجاً لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا

“Dan di antara tanda kekuasaan Allah ialah Ia menciptakan bagimu istri-istri dari jenismu sendiri agar kamu merasa tenteram denganya.” (QS. Ar Ruum: 21)

Dalam sebuah hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menyebutkan 4 ciri wanita sholihah yang salah satunya,

وان نظر إليها سرته

“Jika memandangnya, membuat suami senang.” (HR. Abu Dawud. Al Hakim berkata bahwa sanad hadits ini shahih)

Oleh karena itu, Islam menetapkan adanya nazhor, yaitu melihat wanita yang yang hendak dilamar. Sehingga sang lelaki dapat mempertimbangkan wanita yang yang hendak dilamarnya dari segi fisik. Sebagaimana ketika ada seorang sahabat mengabarkan pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa ia akan melamar seorang wanita Anshar. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أنظرت إليها قال لا قال فاذهب فانظر إليها فإن في أعين الأنصار شيئا

“Sudahkah engkau melihatnya?” Sahabat tersebut berkata, “Belum.” Beliau lalu bersabda, “Pergilah kepadanya dan lihatlah ia, sebab pada mata orang-orang Anshar terdapat sesuatu.” (HR. Muslim)

4. Subur (mampu menghasilkan keturunan)

Di antara hikmah dari pernikahan adalah untuk meneruskan keturunan dan memperbanyak jumlah kaum muslimin dan memperkuat izzah (kemuliaan) kaum muslimin. Karena dari pernikahan diharapkan lahirlah anak-anak kaum muslimin yang nantinya menjadi orang-orang yang shalih yang mendakwahkan Islam. Oleh karena itulah, Rasullullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan untuk memilih calon istri yang subur,

تزوجوا الودود الولود فاني مكاثر بكم الأمم

“Nikahilah wanita yang penyayang dan subur! Karena aku berbangga dengan banyaknya ummatku.” (HR. An Nasa’I, Abu Dawud. Dihasankan oleh Al Albani dalam Misykatul Mashabih)

Karena alasan ini juga sebagian fuqoha (para pakar fiqih) berpendapat bolehnya fas-khu an nikah (membatalkan pernikahan) karena diketahui suami memiliki impotensi yang parah. As Sa’di berkata: “Jika seorang istri setelah pernikahan mendapati suaminya ternyata impoten, maka diberi waktu selama 1 tahun, jika masih dalam keadaan demikian, maka pernikahan dibatalkan (oleh penguasa)” (Lihat Manhajus Salikin, Bab ‘Uyub fin Nikah hal. 202)

Kriteria Khusus untuk Memilih Calon Suami

Khusus bagi seorang muslimah yang hendak memilih calon pendamping, ada satu kriteria yang penting untuk diperhatikan. Yaitu calon suami memiliki kemampuan untuk memberi nafkah. Karena memberi nafkah merupakan kewajiban seorang suami. Islam telah menjadikan sikap menyia-nyiakan hak istri, anak-anak serta kedua orang tua dalam nafkah termasuk dalam kategori dosa besar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كفى بالمرء إثما أن يضيع من يقوت

“Cukuplah seseorang itu berdosa bila ia menyia-nyiakan orang yang menjadi tanggungannya.” (HR. Ahmad, Abu Dawud. Al Hakim berkata bahwa sanad hadits ini shahih).

Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun membolehkan bahkan menganjurkan menimbang faktor kemampuan memberi nafkah dalam memilih suami. Seperti kisah pelamaran Fathimah binti Qais radhiyallahu ‘anha:

عن فاطمة بنت قيس رضي الله عنها قالت‏:‏ أتيت النبي صلى الله عليه وسلم، فقلت‏:‏ إن أبا الجهم ومعاوية خطباني‏؟‏ فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم‏:‏‏”‏أما معاوية، فصعلوك لا مال له ، وأما أبوالجهم، فلا يضع العصا عن عاتقه‏

“Dari Fathimah binti Qais radhiyallahu ‘anha, ia berkata: ‘Aku mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu aku berkata, “Sesungguhnya Abul Jahm dan Mu’awiyah telah melamarku”. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Adapun Mu’awiyah adalah orang fakir, ia tidak mempunyai harta. Adapun Abul Jahm, ia tidak pernah meletakkan tongkat dari pundaknya”.” (HR. Bukhari-Muslim)

Dalam hadits ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak merekomendasikan Muawiyah radhiyallahu ‘anhu karena miskin. Maka ini menunjukkan bahwa masalah kemampuan memberi nafkah perlu diperhatikan.

Namun kebutuhan akan nafkah ini jangan sampai dijadikan kriteria dan tujuan utama. Jika sang calon suami dapat memberi nafkah yang dapat menegakkan tulang punggungnya dan keluarganya kelak itu sudah mencukupi. Karena Allah dan Rasul-Nya mengajarkan akhlak zuhud (sederhana) dan qana’ah (menyukuri apa yang dikarunai Allah) serta mencela penghamba dan pengumpul harta. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

تعس عبد الدينار، والدرهم، والقطيفة، والخميصة، إن أعطي رضي، وإن لم يعط لم يرض

“Celakalah hamba dinar, celakalah hamba dirham, celakalah hamba khamishah dan celakalah hamba khamilah. Jika diberi ia senang, tetapi jika tidak diberi ia marah.” (HR. Bukhari).

Selain itu, bukan juga berarti calon suami harus kaya raya. Karena Allah pun menjanjikan kepada para lelaki yang miskin yang ingin menjaga kehormatannya dengan menikah untuk diberi rizki.

وَأَنكِحُوا الْأَيَامَى مِنكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ إِن يَكُونُوا فُقَرَاء يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِن فَضْلِهِ

“Dan nikahkanlah orang-orang yang masih membujang di antara kalian. Jika mereka miskin, Allah akan memberi kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya.” (QS. An Nur: 32)

Kriteria Khusus untuk Memilih Istri

Salah satu bukti bahwa wanita memiliki kedudukan yang mulia dalam Islam adalah bahwa terdapat anjuran untuk memilih calon istri dengan lebih selektif. Yaitu dengan adanya beberapa kriteria khusus untuk memilih calon istri. Di antara kriteria tersebut adalah:

1. Bersedia taat kepada suami

Seorang suami adalah pemimpin dalam rumah tangga. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاء

“Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita.” (QS. An Nisa: 34)

Sudah sepatutnya seorang pemimpin untuk ditaati. Ketika ketaatan ditinggalkan maka hancurlah ‘organisasi’ rumah tangga yang dijalankan. Oleh karena itulah, Allah dan Rasul-Nya dalam banyak dalil memerintahkan seorang istri untuk taat kepada suaminya, kecuali dalam perkara yang diharamkan. Meninggalkan ketaatan kepada suami merupakan dosa besar, sebaliknya ketaatan kepadanya diganjar dengan pahala yang sangat besar.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا صَلَتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا، وَصَامَتْ شَهْرَهَا، وَحَصَنَتْ فَرْجَهَا، وَأَطَاعَتْ بَعْلَهَا، دَخَلَتْ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شَاءَتْ

“Apabila seorang wanita mengerjakan shalat lima waktunya, mengerjakan puasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya dan menaati suaminya, maka ia akan masuk surga dari pintu mana saja yang ia inginkan.” (HR. Ibnu Hibban. Dishahihkan oleh Al Albani)

Maka seorang muslim hendaknya memilih wanita calon pasangan hidupnya yang telah menyadari akan kewajiban ini.

2. Menjaga auratnya dan tidak memamerkan kecantikannya kecuali kepada suaminya

Berbusana muslimah yang benar dan syar’i adalah kewajiban setiap muslimah. Seorang muslimah yang shalihah tentunya tidak akan melanggar ketentuan ini. Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُل لِّأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاء الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَن يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُوراً رَّحِيماً

“Wahai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’” (QS. Al Ahzab: 59)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengabarkan dua kaum yang kepedihan siksaannya belum pernah beliau lihat, salah satunya adalah wanita yang memamerkan auratnya dan tidak berbusana yang syar’i. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

نساء كاسيات عاريات مميلات مائلات رؤسهن كأسنة البخت المائلة لا يدخلن الجنة ولا يجدن ريحها وإن ريحها ليوجد من مسيرة كذا وكذا

“Wanita yang berpakaian namun (pada hakikatnya) telanjang yang berjalan melenggang, kepala mereka bergoyang bak punuk unta. Mereka tidak akan masuk surga dan bahkan mencium wanginya pun tidak. Padahal wanginya surga dapat tercium dari jarak sekian dan sekian.” (HR. Muslim)

Berdasarkan dalil-dalil yang ada, para ulama merumuskan syarat-syarat busana muslimah yang syar’i di antaranya: menutup aurat dengan sempurna, tidak ketat, tidak transparan, bukan untuk memamerkan kecantikan di depan lelaki non-mahram, tidak meniru ciri khas busana non-muslim, tidak meniru ciri khas busana laki-laki, dll.

Maka pilihlah calon istri yang menyadari dan memahami hal ini, yaitu para muslimah yang berbusana muslimah yang syar’i.

3. Gadis lebih diutamakan dari janda

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan agar menikahi wanita yang masih gadis. Karena secara umum wanita yang masih gadis memiliki kelebihan dalam hal kemesraan dan dalam hal pemenuhan kebutuhan biologis. Sehingga sejalan dengan salah satu tujuan menikah, yaitu menjaga dari penyaluran syahawat kepada yang haram. Wanita yang masih gadis juga biasanya lebih nrimo jika sang suami berpenghasilan sedikit. Hal ini semua dapat menambah kebahagiaan dalam pernikahan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عليكم بالأبكار ، فإنهن أعذب أفواها و أنتق أرحاما و أرضى باليسير

“Menikahlah dengan gadis, sebab mulut mereka lebih jernih, rahimnya lebih cepat hamil, dan lebih rela pada pemberian yang sedikit.” (HR. Ibnu Majah. Dishahihkan oleh Al Albani)

Namun tidak mengapa menikah dengan seorang janda jika melihat maslahat yang besar. Seperti  sahabat Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu yang menikah dengan janda karena ia memiliki 8 orang adik yang masih kecil sehingga membutuhkan istri yang pandai merawat anak kecil, kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menyetujuinya (HR. Bukhari-Muslim)

4. Nasab-nya baik

Dianjurkan kepada seseorang yang hendak meminang seorang wanita untuk mencari tahu tentang nasab (silsilah keturunan)-nya.

Alasan pertama, keluarga memiliki peran besar dalam mempengaruhi ilmu, akhlak dan keimanan seseorang. Seorang wanita yang tumbuh dalam keluarga yang baik lagi Islami biasanya menjadi seorang wanita yang shalihah.

Alasan kedua, di masyarakat kita yang masih awam terdapat permasalahan pelik berkaitan dengan status anak zina. Mereka menganggap bahwa jika dua orang berzina, cukup dengan menikahkan keduanya maka selesailah permasalahan. Padahal tidak demikian. Karena dalam ketentuan Islam, anak yang dilahirkan dari hasil zina tidak di-nasab-kan kepada si lelaki pezina, namun di-nasab-kan kepada ibunya. Berdasarkan hadits,

الوَلَدُ لِلْفِرَاشِ ، وَلِلْعَاهِرِ الْحَجْرُ

“Anak yang lahir adalah milik pemilik kasur (suami) dan pezinanya dihukum.” (HR. Bukhari)

Dalam hadits yang mulia ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya menetapkan anak tersebut di-nasab-kan kepada orang yang berstatus suami dari si wanita. Me-nasab-kan anak zina tersebut kepada lelaki pezina menyelisihi tuntutan hadits ini.

Konsekuensinya, anak yang lahir dari hasil zina, apabila ia perempuan maka suami dari ibunya tidak boleh menjadi wali dalam pernikahannya. Jika ia menjadi wali maka pernikahannya tidak sah, jika pernikahan tidak sah lalu berhubungan intim, maka sama dengan perzinaan. Iyyadzan billah, kita berlindung kepada Allah dari kejadian ini.

Oleh karena itulah, seorang lelaki yang hendak meminang wanita terkadang perlu untuk mengecek nasab dari calon pasangan.

Demikian beberapa kriteria yang perlu dipertimbangkan oleh seorang muslim yang hendak menapaki tangga pernikahan. Nasehat kami, selain melakukan usaha untuk memilih pasangan, jangan lupa bahwa hasil akhir dari segala usaha ada di tangan Allah ‘Azza Wa Jalla. Maka sepatutnya jangan meninggalkan doa kepada Allah Ta’ala agar dipilihkan calon pasangan yang baik. Salah satu doa yang bisa dilakukan adalah dengan melakukan shalat Istikharah. Sebagaimana hadits dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,

إذا هم أحدكم بأمر فليصلِّ ركعتين ثم ليقل : ” اللهم إني أستخيرك بعلمك…”

“Jika kalian merasa gelisah terhadap suatu perkara, maka shalatlah dua raka’at kemudian berdoalah: ‘Ya Allah, aku beristikharah kepadamu dengan ilmu-Mu’… (dst)” (HR. Bukhari)

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush shaalihat. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in.

Semoga Tulisan Ini Bermanfaat Untuk Anda Semua Dan Semoga Berguna Untuk Kehidupan Didunia Maupun Diakhirat. Amien.

Sumber : http://muslim.or.id/

Hukum Shalat Jum’at Bagi Musafir

Tinggalkan komentar

Tempo hari, menjelang berbuka, saya sempat chatting dengan seorang ikhwah, yang di antaranya membahas masalah dalam judul di atas. Dikarenakan sikon yang kurang memungkinkan memberikan rincian, maka dalam pembicaraan tersebut saya hanya sebutkan hal-hal yang ringkas saja. Melalui artikel ini, saya akan sedikit berikan rincian mengenai hal itu dengan harapan dapat menjadi ‘tambal’ apa yang telah terlewat dalam pembicaraan tersebut.
Ad-Daaruquthniy rahimahullah berkata :
حدثنا أبو بكر الشافعي ثنا إسماعيل بن الفضل ثنا القواريري ثنا أبو بكر الحنفي عن عبد الله بن نافع عن أبيه عن ابن عمر عن النبي صلى الله عليه وسلم قال ليس على المسافر جمعة
Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr Asy-Syaafi’iy : Telah menceritakan kepada kami Ismaa’iil bin Al-Fadhl : Telah menceritakan kepada kami Al-Qawaariiriy : Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr Al-Hanafiy, dari ‘Abdullah bin Naafi’, dari ayahnya, dari Ibnu ‘Umar, dari Nabi shallallaahu ‘alahi wa sallam, beliau bersabda : “Tidak ada kewajiban shalat Jum’at bagi musafir” [As-Sunan, no. 1582].
Ismaa’iil bin Al-Fadhl mempunyai muttabi’ dari Ahmad bin Yahyaa Al-Hulwaaniy sebagaimana diriwayatkan juga oleh Ath-Thabaraaniy dalam Al-Ausath 1/249 no. 818.
Hadits ini sangat lemah, dikarenakan ‘Abdullah bin Naafi’, seorang yang matruuk.
Al-Baihaqiy rahimahullah menyatakan bahwa yang shahih (mahfuudh) dari riwayat ini adalah mauquf :
وأخبرنا أبو حازم الحافظ ثنا أبو أحمد الحافظ أنبأ أبو يعقوب إسحاق بن أيوب الفقيه بواسط ثنا أحمد بن سعد الزهري ثنا يحيى بن سليمان الجعفي ثنا بن وهب أخبرني عمرو بن الحارث حدثني عبيد الله بن عمر عن نافع عن بن عمر قال لا جمعة على مسافر
Dan telah mengkhabarkan kepada kami Abu Haazim Al-Haafidh : Telah menceritakan kepada kami Abu Ahmad Al-Haafidh : Telah memberitakan Abu Ya’quub Ishaaq bin Ayyuub Al-Faqiih di Waasith : Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Sa’d Az-Zuhriy : Telah menceritakan kepada kami Yahyaa bin Sulaimaan Al-Ju’fiy : Telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb : Telah mengkhabarkan kepadaku ‘Amru bin Al-Haarits : Telah menceritakan kepadaku ‘Ubaidullah bin ‘Umar, dari Naafi’, dari Ibnu ‘Umar, ia berkata : “Tidak ada kewajiban shalat Jum’at bagi musafir” [As-Sunan Al-Kubraa, 3/184].
Diriwayatkan pula oleh ‘Abdurrazzaaq (3/172 no. 5198) dari jalan ‘Ubaidullah bin ‘Umar, dari Naafi’, dari Ibnu ‘Umar radliyallaahu ‘anhumaa.
Ada hadits lain dalam hal ini :
Ad-Daaruquthniy rahimahullah berkata :
حدثنا عبيد الله بن عبد الصمد بن المهتدي بالله ثنا يحيى بن نافع بن خالد بمصر ثنا سعيد بن أبي مريم ثنا ابن لهيعة حدثني معاذ بن محمد الأنصارى عن أبي الزبير عن جابر أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فعليه الجمعة يوم الجمعة إلا مريض أو مسافر أو امرأة أو صبي أو مملوك فمن استغنى بلهو أو تجارة استغنى الله عنه والله غني حميد
Telah menceritakan kepada kami ‘Ubaidullah bin ‘Abdish-Shamad Al-Muhtadiy billah : Telah menceritakan kepada kami Yahyaa bin Naafi’ bin Khaalid di Mesir : Telah menceritakan kepada kami Sa’iid bin Abi Maryam : Telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahii’ah : Telah menceritakan kepadaku Mu’aadz bin Muhammad Al-Anshaariy, dari Abuz-Zuabir, dari Jaabir : Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka wajib baginya mengerjakan shalat Jum’at pada hari Jum’at, kecuali : orang yang sakit, musafir, wanita, anak-anak, dari budak. Barangsiapa yang mencukupkan diri dengan kesia-siaan atau perdagangan, maka Allah akan merasa cukup darinya, dan Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji” [As-Sunan, no. 1576, dan dari jalannya Ibnul-Jauziy dalam At-Tahqiiq, 1/501 no. 788].
Sa’iid bin Abi Maryam mempunyai muttabi’ dari Kaamil bin Thalhah Al-Jahdariy, seorang yang shaduuq, sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu ‘Adiy dalam Al-Kaamil dan dari jalannya Al-Baihaqiy dalam Al-Kubraa 3/184.
Riwayat ini lemah, atau bahkan mungkin sangat lemah. Ibnu Lahii’ah, seorang yang lemah dari sektor hapalannya setelah kitab-kitabnya terbakar [At-Taqriib, hal. 538 no. 3587]. Mu’aadz bin Muhammad seorang perawi munkarul-hadiits,[2] sebagaimana dikatakan Ibnu ‘Adiy [Al-Kaamil no. 1912]. Adapun Al-Uqailiy berkata : “Dalam haditsnya ada wahm” [Adl-Dlu’afaa’, hal. 1348 no. 1787].
Jaabir mempunyai syaahid antara lain dari :
1.      Tamiim Ad-Daariy radliyallaahu ‘anhu.
Al-Baihaqiy rahimahullah berkata :
أخبرنا علي بن أحمد بن عبدان أنبأ أحمد بن عبيد الصفار ثنا علي بن الحسن بن بيان ثنا سعيد بن سليمان ثنا محمد بن طلحة بن مصرف ح وأخبرنا أبو حازم الحافظ أنبأ أبو أحمد الحافظ يعني النيسابوري أنبأ أبو أحمد محمد بن سليمان بن فارس ثنا محمد يعني بن إسماعيل البخاري حدثني إسماعيل بن أبان ثنا محمد بن طلحة عن الحكم بن عمرو عن ضرار بن عمرو عن أبي عبد الله الشامي عن تميم الداري عن النبي صلى الله عليه وسلم قال الجمعة واجبة إلا على صبي أو مملوك أو مسافر وفي رواية بن عبدان إن الجمعة واجبة إلا على صبي أو مملوك أو مسافر
Telah mengkhabarkan kepada kami ‘Aliy bin Ahmad bin ‘Abdaan : Telah memberitakan Ahmad bin ‘Ubaid Ash-Shaffaar : Telah menceritakan kepada kami ‘Aliy bin Al-Hasan bin Bayaan : Telah menceritakan kepada kami Sa’iid bin Sulaimaan : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Thalhah bin Musharrif (ح). Dan telah mengkhabarkan kepada kami Abu Haazim Al-Haafidh : Telah memberitakan Abu Ahmad Al-Haafidh An-Naisaabuuriy : Telah memberitakan Abu Ahmad Muhammad bin Sulaimaan bin Faaris : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ismaa’iil Al-Bukhaariy : Telah menceritakan kepadaku Ismaa’iil bin Abaan : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Thalhah, dari Al-Hakam bin ‘Amru, dari Dliraar bin ‘Amru, dari Abu ‘Abdillah Asy-Syaamiy, dari Tamiim Ad-Daariy, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda : “Shalat Jum’at itu wajib kecuali bagi anak-anak, budak, atau musafir”. Dan dalam riwayat Ibnu ‘Abdaan : “Sesungguhnya shalat Jum’at itu wajib kecuali bagi anak-anak, budak, dan musafir” [As-Sunan Al-Kubraa, 3/183-184].
Diriwayatkan pula oleh Ath-Thabaraaniy dalam Al-Kubraa 2/51-52 no. 1257 dan Al-‘Uqailiy dalam Adl-Dlu’afaa’ hal. 609 no. 765 dari jalan Muhammad bin Thalhah yang selanjutnya seperti hadits di atas.
Sanad hadits ini sangat lemah. Abu ‘Abdillah Asy-Syaamiy namanya Syahr bin Hausyab adalah perawi lemah [Tahriirut-Taqriib, 2/122 no. 2830]. Dliraar bin ‘Amru Al-Malathiy, [Mishbaahul-Ariib, 2/105 no. 12603] dan Al-Hakam bin ‘Amru Ar-Ru’ainiy [idem, 1/389 no. 8165 – lihat juga ta’liq Hamdiy As-Salafiy dalam Al-Kabiir], adalah dua orang perawi yang sangat lemah.
Abu Zur’ah berkata tentang hadits ini : “Hadits munkar” [Al-‘Ilal oleh Ibnu Abi Haatim 1/212].
2.      Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu.
Ath-Thabaraaniy rahimahulah berkata :
حدثنا أحمد بن محمد بن الحجاج بن رشدين بن سعد المصري قال حدثنا إبراهيم بن حماد بن أبي حازم المديني قال حدثنا مالك بن أنس عن أبي الزناد عن الأعرج عن أبي هريرة قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم خمسة لا جمعة عليهم المرأة والمسافر والعبد والصبي وأهل البادية لم يرو هذا الحديث عن مالك إلا إبراهيم بن حماد بن أبي حازم
Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Muhammad bin Al-Hajjaaj bin Risydiin bin Sa’d Al-Mishriy, ia berkata : Telah mengkhabarkan kepada kami Ibraahiim bin Hammaad bin Abi Haazim Al-Madiiniy, ia berkata : Telah mengkhabarkan kepada kami Maalik bin Anas, dari Abuz-Zinaad, dari Al-A’raj, dari Abu Hurairah, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Ada lima golongan yang tidak diwajibkan shalat Jum’at atas mereka : wanita, musafir, budak, anak-anak, dan penduduk padang pasir”. Ath-Thabaraaniy berkata : “Tidak ada yang meriwayatkan hadits ini dari Maalik kecuali Ibraahiim bin Hammaad bin Abi Haazim” [Al-Ausath, no. 204].
Hadits ini lemah karena Ahmad bin Muhammad bin Al-Hajjaaj [Irsyaadul-Qaadliy, hal. 155-156 no. 172] dan Ibraahiim bin Hammaad [Mishbaahul-Ariib, 1/28 no. 283] adalah dua orang perawi lemah.
Al-Albaaniy mengatakan tentang hadits ini : “Sangat lemah” [Adl-Dla’iifah no. 3555].
Ada juga hadits mursal Al-Hasan Al-Bashriy rahimahullah :
عَنِ ابْنِ عُيَيْنَةَ ، عَنْ عَمْرٍو ، عَنِ الْحَسَنِ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” لَيْسَ عَلَى الْمُسَافِرِ جُمُعَةٌ
Dari Ibnu ‘Uyainah, dari ‘Amru, dari Al-Hasan, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Tidak ada kewajiban shalat Jum’at bagi musafir” [Diriwayatkan oleh ‘Abdurrazzaaq no. 5203].
Hadits ini lemah karena mursal.
Kesimpulan : Hadits perkecualian musafir dari orang-orang yang diwajibkan shalat Jum’at dari sabda beliau shallalahu ‘alaihi wa sallam adalah lemah.
Akan tetapi perkecualian musaafir dari orang-orang yang diwajibkan shalat Jum’at merupakan ijmaa’ dari kalangan ulama sebagaimana dikatakan Ibnu Hubairah rahimahullah :
واتفقوا على أن الجمعة لا تجب على صبي ولا عبد ولا مسافر ولا امرأة، إلا رواية عن أحمد في العبد خاصة
“Para ulama telah sepakat bahwasannya shalat Jum’at tidak diwajibkan atas anak-anak, hamba/budak, musafir, dan wanit; kecuali satu riwayat dari Ahmad tentang hamba secara khusus” [Ikhtilaaful-‘Ulamaa’, 1/152].
Begitu juga yang dikatakan Ibnu ‘Abdil-Barr rahimahullah :
وأما قوله: (ليس على مسافر جمعة) فإجماع لا خلاف فيه
“Adapun sabda beliau : ‘Tidak ada kewajiban shalat Jum’at atas musafir’, maka itu adalah ijma’ tanpa ada perselisihan padanya” [Al-Istidzkaar, 2/36].
Hal itu dikarenakan bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah sering melakukan safar, akan tetapi tidak ternukil satupun riwayat yang menjelaskan beliau menegakkan shalat Jum’at. Ibnul-Mundzir rahimahullah berkata :
ومما يحتج به في إسقاط الجمعة عن المسافر أن النبي صلى الله عليه وسلم قد مرّ به في أسفاره جُمَعٌ لا محالة، فلم يبلغنا أنه جَمَّع وهو مسافر، بل قد ثبت عنه أنه صلى الظهر بعرفة وكان يوم الجمعة، فدلّ ذلك من فعله على أن لا جمعة على المسافر
“Dan termasuk dalil yang menunjukkan gugurnya kewajiban shalat Jum’at bagi musafir adalah bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dalam safar-safarnya tentu pernah melewati hari Jum’at. Akan tetapi tidak sampai pada kita beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengerjakan shalat Jum’at dalam keadaan safar. Bahkan, telah shahih dari beliau mengerjakan shalat Dhuhur di ‘Arafah yang saat itu bertepatan dengan hari Jum’at. Maka, itu merupakan petunjuk dari perbuatan beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam bahwa tidak ada kewajiban shalat Jum’at bagi musafir” [Al-Ausath, 4/20].
حدثنا وكيع عن العمري عن نافع عن ابن عمر أنه كان لا يجمع في السفر
Telah menceritakan kepada kami Wakii’, dari Al-‘Umariy, dari Naafi’, dari Ibnu ‘Umar : Bahwasannya ia tidak melaksanakan shalat Jum’at ketika safar [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, 2/104; sanadnya hasan, namun shahih dengan riwayat mauquf Al-Baihaqiy di awal].
عن الثوري عن مغيرة عن إبراهيم قال كانوا لا يجمعون في سفر ولا يصلون الا ركعتين
Dari Ats-Tsauriy, dari Mughiirah, dari Ibraahiim, ia berkata : “Mereka tidak mengerjakan shalat Jum’at ketika safar. Dan mereka tidaklah shalat kecuali dua raka’at” [Diriwayatkan ‘Abdurrazzaaq 3/173-174 no. 5202; sanadnya shahih].
‘Mereka’ yang dimaksud Ibraahiim An-Nakha’iy ini adalah beberapa tabi’in dan shahabat yang semasa dengannya, karena ia sendiri termasuk tabi’iy kecil (thabaqah ke-5, wafat tahun 196 H).
حدثنا معتمر عن برد عن مكحول قال : ليس على المسافر أضحى ولا فطر ولا جمعة
Telah meceritakan kepada kami Mu’tamir, dari Burd, dari Mak-huul, ia berkata : “Tidak ada kewajiban bagi musafir shalat ‘Iedul-Adlhaa, shalat ‘Iedul-Fithri, dan shalat Jum’at” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, 2/104; sanadnya shahih].
حدثنا أبو أسامة عن أبي العميس عن علي بن الأقمر قال : خرج مسروق وعروة بن المغيرة ونفر من أصحاب عبد الله فحضرت الجمعة فلم يجمعوا وحضر الفطر فلم يفطروا
Telah menceritakan kepada kami Abu Usaamah, dari Abul-‘Umais, dari ‘Aliy bin Al-Aqmar, ia berkata : “Masruuq, ‘Urwah, Al-Mughiirah, dan sejumlah orang dari kalangan shahabat ‘Abdullah pernah keluar untuk safar. Tibalah hari Jum’at, namun mereka tidak shalat Jum’at. Dan tiba pula hari ‘Iedul-Fithri, namun mereka tidak shalat ‘Ied” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, 2/104; sanadnya shahih].
حدثنا أبو الأحوص عن مغيرة عن إبراهيم قال كان أصحابنا يغزون فيقيمون السنة أو نحو ذلك يقصرون الصلاة ولا يجمعون
Telah menceritakan kepada kami Abul-Ahwash, dari Mughiirah, dari Ibraahiim : “Shahabat-shahabat kami pernah berperang selama kurang lebih setahun, dimana mereka menqashar shalat namun tidak melakukan shalat Jum’at” [idem, sanadnya shahih].
عن معمر عن بن طاووس عن أبيه قال ليس على المسافر جمعة
Dari Ma’mar, dari Ibnu Thaawus, dari ayahnya, ia berkata : “Tidak ada kewajiban shalat Jum’at bagi musafir” [Diriwayatkan ‘Abdurrazzaq 3/172 no. 5197; sanadnya shahih].
Ijma’ ini adalah bagi musafir yang tidak singgah di satu negeri/daerah dan tidak terdengar adzan oleh mereka. Seandainya mereka menegakkan sendiri shalat Jum’at, maka shalatnya tidak sah menurut sebagian ulama, dan ia harus mengulangi dengan melakukan shalat Dhuhur.
Akan tetapi para ulama berbeda pendapat tentang musafir yang mendengar panggilan adzan dalam satu negeri/daerah yang ia lewati. Jumhur ulama berpendapat tidak wajib menghadiri shalat Jum’at. Alasannya adalah sebagaimana di atas.
حدثنا عبد الأعلى عن يونس عن الحسن أن أنس بن مالك أقام بنيسابور سنة أو سنتين فكان يصلي ركعتين ثم يسلم ولا يجمع
Telah menceritakan kepada kami ‘Abdul-A’laa, dari Yuunus, dari Al-Hasan : Bahwasannya Anas bin Maalik pernah berada di Naisaabuur selama setahun atau dua tahun. Ia shalat dua raka’at kemudian salam, tanpa mengerjakan shalat Jum’at [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, 2/104; sanadnya shahih].
حدثنا عبد الأعلى عن يونس عن الحسن أن عبد الرحمن بن سمرة شتى بكابل شتوة أو شتوتين لا يجمع ويصلي ركعتين
Telah menceritakan kepada kami ‘Abdul-A’la, dari Yuunus, dari Al-Hasan : Bahwasannya ‘Abdurrahman bin Samurah pernah berada di negeri Kaabul (Afghanistan) pada musim dingin selama semusim atau dua musim. Ia tidak melakukan shalat Jum’at, dan ia shalat dua raka’at” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, 2/104; sanadnya shahih].
حدثنا زيد بن حباب قال ثنا رجاء بن أبي سلمة قال حدثني أبو عبيد مولى سليمان بن عبد الملك قال : خرج عمر بن عبد العزيز من دابق وهو يومئذ أمير المؤمنين فمر بحلب يوم الجمعة فقال لأميرها : جمع فإنا سفر
Telah menceritakan kepada kami Zaid bin Hubaab, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Rajaa’ bin Abi Salamah, ia berkata : Telah menceritakan kepadaku Abu ‘Ubaid maulaa Sulaimaan bin ‘Abdil-Malik, ia berkata : “’Umar bin ‘Abdil-‘Aziiz pernah keluar dalam safarnya dari Daabiq dimana saat itu ia menjabat sebagai Amiirul-Mukminiin. Ia melewati negeri Halab pada hari Jum’at, lalu ia berkata kepada amir negeri itu : “Shalat Jum’at lah, karena kami sedang safar (sehingga tidak shalat bersama kalian)” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, 2/105; sanadnya shahih].
Di antara mereka (salaf) ada yang tetap mewajibkan menghadiri shalat Jum’at. Dalil mereka adalah keumuman ayat :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan sembahyang pada hari Jumat, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui” [QS. Al-Jum’ah : 6].
Ayat ini umum, tidak mengkhususkan bagi orang yang mukim saja.
عن معمر عن الزهري قال سألته عن المسافر يمر بقرية فينزل فيها يوم الجمعة قال إذا سمع الاذان فليشهد الجمعة
Dari Ma’mar, dari Az-Zuhriy, ia berkata : Aku (Ma’mar) pernah bertanya kepadanya tentang musafir yang melewati satu kampung/desa yang bertepatan dengan hari Jum’at, maka ia menjawab : “Apabila ia mendengar adzan, hendaklah ia menghadiri shalat Jum’at” [Diriwayatkan oleh ‘Abdurazzaaq 3/174 no. 5205; sanadnya shahih].
Catatan : Pendapat Az-Zuhriy ini juga dilatarbelakangi pengetahuannya bahwa para shahabat dan tabi’in ketika berada di Dzul-Hulaifah menghadiri shalat Jum’at.
حدثنا أبو خالد الأحمر عن عبد الله بن يزيد عن سعيد بن المسيب قال : سألته على من تجب الجمعة ؟ فقال : على من سمع النداء
Telah menceritakan kepada kami Abu Khaalid Al-Ahmar, dari ‘Abdullah bin Yaziid, dari Sa’iid bin Al-Musayyib, ia berkata : Aku (‘Abdullah bin Yaziid) pernah bertanya kepadanya tentang orang yang diwajibkan shalat Jum’at, lalu ia menjawab : “Wajib bagi siapa saja yang mendengar adzan” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, 2/102; sanadnya shahih].
حدثنا وكيع عن داود بن قيس الفراء قال : سمعت عمرو بن شعيب قيل له : يا أبا إبراهيم على من يجب الجمعة ؟ قال : على من سمع الصوت
Telah menceritakan kepada kami Wakii’, dari Daawud bin Qais Al-Farraa’, ia berkata : Aku pernah mendengar ‘Amru bin Qais, dikatakan kepadanya : “Wahai Abu Ibraahiim, siapa saja yang diwajibkan shalat Jum’at ?”. Ia berkata : “Diwajibkan bagi siapa saja yang mendengar suara adzan” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, 2/104; sanadnya shahih].
Pendapat inilah yang nampak dikuatkan oleh Shiddiiq Hasan Khaan rahimahullah, dimana ia berkata :
والغالب أن المسافر لا يسمع النداء، وقد ورد أن الجمعة على من سمع النداء، كما في حديث ابن عمر عند أبي داود
“Dan ghalib-nya, (tidak wajibnya shalat Jum’at) itu bagi musafir yang tidak mendengar adzan. Dan telah ada riwayat bahwasannya shalat Jum’at itu wajib bagi orang yang mendengar adzan, sebagaimana terdapat dalam hadits Ibnu ‘Umar sebagaimana diriwayatkan Abu Dawud” [Ar-Raudlatun-Nadiyyah, 1/362].
Riwayat Ibnu ‘Umar radliyallaahu ‘anhumaa dalam Sunan Abi Daawud yang dimaksudkan oleh Shiddiiq Hasan Khaan adalah :
حدثنا محمد بن يحيى بن فارس، ثنا قبيصة، ثنا سفيان، عن محمد بن سعيد يعني الطائفي عن أبي سلمة بن نبيه، عن عبد اللّه بن هارون، عن عبد اللّه بن عمرو، عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: “الجمعة على كل من سمع النداء”.
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yahyaa bin Faaris : Telah menceritakan kepada kami Qabiishah : Telah menceritakan kepada kami Sufyaan, dari Muhammad bin Sa’iid Ath-Thaaifiy, dari Abu Salamah bin Nabiih, dari ‘Abdullah bin Haarun, dari ‘Abdulah bin ‘Amru, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda : “Shalat Jum’at wajib bagi siapa saja yang mendengar adzan” [Diriwayatkan oleh Abu Daawud no. 1056; dihasankan oleh Al-Albaaniy dalam Irwaaul-Ghaliil 3/58-60 no. 594].
Yang raajih, shalat Jum’at wajib dihadiri oleh musafir jika ia mendengar seruan adzan, karena tidak ada dalil yang memalingkankannya dari keumumannya. Baik seruan adzan itu berasal dari perkotaan ataupun pedesaan.
حدثنا عبد الله بن إدريس عن شعبة عن عطاء بن أبي ميمونة عن أبي رافع عن أبي هريرة أنهم كتبوا إلى عمر يسألونه عن الجمعة فكتب جمعوا حيث كنتم
Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Idriis, dari Syu’bah, dari ‘Athaa’ bin Abi Maimuun, dari Abu Raafi’, dari Abu Hurairah : Bahwasannya para shahabat menulis surat kepada ‘Umar (bin Al-Khaththaab) bertanya kepadanya tentang shalat Jum’at. Lalu ‘Umar menulis balasan : “Shalat Jum’atlah dimana saja kalian berada” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, 2/101; sanadnya shahih].
Adapun pendalilan bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah menegakkan shalat Jum’at dalam safarnya, maka itu dikarenakan jama’ah adalah bersama beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Tidak ada seruan adzan yang berkumandang kecuali seruan adzan yang dikumandangkan  oleh para shahabat yang bersama beliau. Seandainya dikatakan musafir tetap tidak diwajibkan menghadiri shalat Jum’at (jika ia mendengar panggilan adzan di suatu daerah/negeri yang ia lewati/singgahi), maka itu tidak menafikkan disyari’atkannya menghadiri shalat Jum’at bagi musafir dan ke-afdlal-annya. Itulah yang dilakukan oleh sebagian shahabat.
Wallaahu a’lam bish-shawwaab.
Ini saja yang dapat dituliskan secara singkat, semoga ada manfaatnya bagi Penulis dan Pembaca sekalian.
[abul-jauzaa’ – perum ciomas permai, ciapus, ciomas, bogor – akhir Ramadlan 1432 H].Ibnu Hajar rahimahullah hanya menghukumi dla’iif saja [At-Taqriib, hal. 552 no. 3685]. Penilaian ini kurang tepat, sebab banyak muhaddits menghukuminya dengan pelemahan yang syadiid. Misalnya : Abu Haatim berkata : “Munkarul-hadits”. Al-Bukhaariy berkata : “Munkarul-hadiits”. An-Nasaa’iy berkata : “Matruukul-hadiits”. Di lain tempat ia berkata : “Tidak tsiqah”. Ad-Daaruquthniy berkata : “Matruk”. Abu Ahmad Al-Haakim berkata : “Munkarul-hadiits” [lihat selengkapnya dalam : Tahdzibut-Tahdziib, 6/53-54 no. 101].
Ibnu Hajar dalam At-Taqriib (hal. 952 no. 6786) mengatakan : ‘maqbuul’, dan kemudian dikoreki oleh Al-Arna’uth dan Basyaar ‘Awwaad dengan : ‘shaduuq hasanul-hadiits’ [Tahriirut-Taqriib, 3/390 no. 6739].
Penghukuman keduanya perlu ditinjau kembali, karena mereka hanya mengantungkan tautsiq Ibnu Hibbaan dan periwayatan beberapa orang tsiqaat darinya, tanpa memasukkan jarh Ibnu ‘Adiy dan Al-‘Uqailiy di atas.
Inilah yang dinukil dan dipahami oleh banyak ulama. Akan tetapi Ibnu Hazm rahimahullah mempunyai pemahaman lain dimana ia mengatakan bahwa yang dilakukan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam  di ‘Arafah adalah shalat Jum’at :
وَلاَ خِلاَفَ فِيْ أَنَّهُ عَلَيْهِ السَّلاَمُ خَطَبَ وَ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ وَ هَذِهِ صِفَةُ صَلاَةِ الْجُمُعَةِ
“Dan tidak ada perselisihan bahwasannya beliau ‘alaihis-salaam berkhutbah dan shalat dua raka’at. Dan inilah sifat shalat Jum’at” [Al-Muhallaa, 5/50].
Namun pendapat Ibnu Hazm rahimahullah ini tidak benar.
Inilah tahqiq yang mesti kita perhatikan. Termasuk dalam memahami perkataan beberapa ulama, semisal perkataan Ibnu Qudaamah rahimahullah berkata :
 وأما المسافر فأكثر أهل العلم يرون أنه لا جمعة عليه كذلك قاله مالك في أهل المدينة والثوري في العراق والشافعي وإسحاق وأبو ثور وروي ذلك عن عطاء وعمر بن عبد العزيز والحسن والشعبي وحكي عن الزهري والنخعي أنها تجب عليه لان الجماعة تجب عليه فالجمعة أولى ولنا أن النبي عليه الصلاة والسلام كان يسافر فلا يصلي الجمعة في سفره وكان في حجة الوداع بعرفة يوم الجمعة فصلى الظهر وجمع بينها ولم يصل جمعة والخلفاء الراشدون رضي الله عنهم كانوا يسافرون للحج وغيره فلم يصل أحد منهم الجمعة في سفره وكذلك غيرهم من أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم ومن بعدهم
“Adapun musafir, kebanyakan ulama berpendapat tidak adanya kewajiban shalat Jum’at baginya. Begitulah yang dikatakan Maalik dari kalangan penduduk Madinah, Ats-Tsauriy dari kalangan penduduk ‘Iraaq, Asy-Syaafi’iy, Ishaaq, dan Abu Tsaur. Dan diriwayatkan hal tersebut dari ‘Athaa’, ‘Umar bin ‘Abdil-‘Aziiz, Al-Hasan, dan Asy-Sya’by. Dan dihikayatkan dari Az-Zuhriy dan An-Nakha’iy bahwasannya shalat Jum’at itu wajib bagi musafir karena shalat jama’ah itu wajib baginya sehingga qiyas aula-nya shalat Jum’at lebih pantas untuk diwajibkan. Adapun dalil kami adalah bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa salam biasa melakukan safar, namun beliau tidak melakukan halat Jum’at dalam safarnya itu. Dan ketika dalam haji wada’ di ‘Arafah pada hari Jum’at, beliau shalat Dhuhur dan menjamaknya, tanpa melakukan shalat Jum’at. Hal yang sama dengan Al-Khulafaaur-Raasyidiin radliyallaahu ‘anhum dimana mereka biasa bersafar untuk haji dan selainnya tanpa ada seorang pun dari mereka melakukan shalat Jum’at dalam safarnya. Begitu dengan shahabat-shahabat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam lainnya dan orang-orang setelah mereka….” [Al-Mughniy, 3/216].
Yang diriwayatkan dari sebagian salaf yang mewajibkan shalat bagi musafir adalah bagi mereka yang mendengarkan panggilan adzan.
At-Tirmidziy rahimahullah berkata :
واختلف أهل العلم على من تجب عليه الجمعة، فقال بعضهم: تجب الجمعة على من آواه الليل إلى منزله. وقال بعضهم: لا تجب الجمعة إلا على من سمع النداء، وهو قول الشافعي وأحمد وإسحاق.
سمعت أحمد بن الحسن يقول: كنا عند أحمد بن حنبل فذكروا على من تجب الجمعة، فلم يذكر أحمد فيه عن النبي صلى الله عليه وسلم شيئا: قال أحمد بن الحسن: فقلت لأحمد بن حنبل: فيه عن أبي هريرة عن النبي صلى الله عليه وسلم، قال أحمد بن حنبل: عن النبي صلى الله عليه وسلم؟ قلت: نعم.
حدثنا الحجاج بن نصير أخبرنا معارك بن عباد عن عبد الله بن سعيد المقبري عن أبيه عن أبي هريرة عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: “الجمعة على من آواه الليل إلى أهله” فغضب علي أحمد، وقال: استغفر ربك استغفر ربك. وإنما فعل به أحمد بن حنبل هذا لأنه لم يعد هذا الحديث شيئا وضعفه لحال إسناد.
“Para ulama berbeda pendapat tentang orang yang diwajibkan padanya shalat Jum’at. Sebagian mereka berkata : ‘Shalat Jum’at diwajibkan bagi orang yang dapat bermalam dengan keluarganya’. Sebagian yang lain berkata : ‘Shalat Jum’at tidak diwajibkan kecuali bagi orang yang mendengar panggilan adzan’. Ia adalah pendapat Asy-Syaafi’iy, Ahmad, dan Ishaaq.
Aku mendengar Ahmad bin Al-Hasan berkata : ‘Kami pernah berada di sisi Ahmad bin Hanbal, lalu mereka membicarakan tentang siapa saja yang diwajibkan shalat Jum’at. Ahmad tidak menyebutkan satu pun hadits dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam’. Ahmad bin Al-Hasan berkata : Aku berkata kepada Ahmad bin Hanbal : ‘Dalam permasalahan itu ada hadits dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam’. Lalu Ahmad bin Hanbal mengomentari : ‘Dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam ?’. Aku berkata : ‘Benar’. (Lalu Ahmad bin Al-Hasan menyebutkan hadits) : Telah menceritakan kepada kami Al-Hajjaaj bin Nushair : Telah mengkhabarkan kepada kami Mu’aarik bin ‘Abbaad, dari ‘Abdullah bin Sa’iid Al-Maqburiy, dari ayahnya, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda : ‘Shalat Jum’at diwajibkan bagi orang yang dapat bermalam dengan keluarganya. Maka, Ahmad marah kepadaku, dan berkata : ‘Minta ampunlah kepada Rabbmu, minta ampunlah kepada Rabbmu’.
Ahmad bin Hanbal melakukan hal tersebut hanyalah karena ia tidak menganggap hadits ini sedikitpun dikarenakan kelemahan sanadnya” [lihat : Sunan At-Tirmidziy, 1/511-512].
Sebagian orang membawakan atsar Anas ini sebagai dalil bahwasannya ia (Anas) menafikkan shalat Jum’at bagi musafir secara mutlak. Menurut saya ini tidak benar dengan alasan riwayat berikut :
Al-Bukhaariy rahimahullah berkata :
وكان أنس رضي الله عنه في قصره، أحيانا يجمع وأحيانا لا يجمع، وهو بالزاوية على فرسخين
“Adalah Anas radliyallaahu ‘anhu di tempat tinggalnya, kadangkala melaksanakan shalat Jum’at (di Bashrah), kadangkala tidak, dimana tempat tinggalnya itu ada di daerah Zaawiyyah yang berjarak dua farsakh (dari Bashrah)” [Shahih Al-Bukhaariy, melalui Fathul-Baariy 3/43 – disambungkan oleh Ibnu Abi Syaibah 2/102].
Di sisi lain, Anas sendiri meriwayatkan bahwasannya ia pernah mengqashar shalat bersama Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam di Dzul-Hulaifah.
حدثنا أبو نعيم قال: حدثنا سفيان، عن محمد بن المنكدر وإبراهيم بن ميسرة، عن أنس رضي الله عنه قال: صليت الظهر مع النبي صلى الله عليه وسلم بالمدينة أربعا، والعصر بذي الحليفة ركعتين.
Telah menceritakan kepada kami Abu Nu’aim, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Sufyaan, dari Muhammad bin Al-Munkadir dan Ibraahiim bin Maisarah, dari Anas radliyallaahu ‘anhu, ia berkata : “Aku pernah shalat Dhuhur bersama Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam di Madiinah empat raka’at, dan shalat ‘Ashar di Dzul-Hulaifah dua raka’at” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 1089].
Jarak antara Madiinah dan Dzul-Hulaifah adalah dua farsakh (± 6 mil).
Begitu juga dengan beberapa shahabat lain :
عن هشام بن عروة عن عائشة بنت سعد بن أبي وقاص قالت كان أبي يكون من المدينة على ستة أميال أو ثمانية فكان ربما يشهد الجمعة بالمدينة وربما لم يشهدها
Dari Hisyaam bin ‘Urwah, dari ‘Aaisyah bintu Sa’d bin Abi Waqaash, ia berkata : “Ayahku tinggal di tempat yang berjarak enam atau delapan mil dari kota Madiinah. Kadang ia menghadiri shalat Jum’at di Madinah, kadang tidak menghadiri” [Diriwayatkan oleh ‘Abdurrazzaaq 3/163 no. 5157; sanadnya shahih].
Akan tetapi ada riwayat lain bahwa dalam kesempatan lain ‘Umar bin ‘Abdil-‘Aziiz ikut menghadiri shalat Jum’at dalam safarnya.
عن معمر عن عطاء الخرساني قال قدم عمر بن عبد العزيز مكة في حج أو عمرة فجمع بهم وهو مسافر
Dari Ma’mar, dari ‘Athaa’ Al-Khurasaaniy, ia berkata : “’Umar bin ‘Abdil-‘Aziiz tiba di Makkah ketika haji atau ‘umrah, lalu ia shalat Jum’at bersama mereka sedangkan ia seorang musafir” [Diriwayatkan oleh ‘Abdurrazzaq no. 5148; sanadnya hasan atau shahih].
Dua riwayat yang ternukil dari ‘Umar bin ‘Abdil-‘Aziiz rahimahullah ini menunjukkan bahwa shalat Jum’at tetap disyari’atkan bagi musafir bersama penduduk negeri yang dikunjunginya, walau itu tidak wajib baginya.
Misalnya riwayat yang dibawakan Ibnu Abi Syaibah rahimahullah berikut :
حدثنا عبد الاعلى عن معمر عن الزهري أنهم كانوا يشهدون الجمعة مع النبي صلى الله عليه وسلم من ذي الحليفة
Telah menceritakan kepada kami ‘Abdul-A’laa, dari Ma’mar, dari Az-Zuhriy : Bahwasannya mereka (para shahabat) menghadiri shalat Jum’at besama Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dari Dzul-Hulaifah [Al-Mushannaf, 2/103; sanadnya shahih].
حدثنا وكيع عن جعفر بن برقان قال قلت للزهري على من تجب الجمعة ممن كان هو قرب المدينة قال كان أهل ذي الحليفة يشهدون الجمعة

Telah menceritakan kepada kami Wakii’, dari Ja’far bin Burqaan, ia berkata : Aku pernah bertanya kepada Az-Zuhriy : “Kepada siapa shalat Jum’at diwajibkan dari orang-orang yang berdekatan dengan Madinah ?”. Ia menjawab : “Dulu penduduk Dzul-Hulaifah menghadiri shalat Jum’at” [idem, sanadnya shahih].

Sumber : http://abul-jauzaa.blogspot.com/

Tambahkan Cinta Dan Kurangi Benci

Tinggalkan komentar

Seorang pria bertemu dengan seorang gadis di sebuah pesta, si gadis tampil luar biasa cantiknya, banyak lelaki yang mencoba mengejar si gadis. Si pria sebetulnya tampil biasa saja dan tak ada yang begitu memperhatikan dia, tapi pada saat pesta selesai dia memberanikan diri mengajak si gadis untuk sekedar mencari minuman hangat. Si gadis agak terkejut, tapi karena kesopanan si pria itu, si gadis mengiyakan ajakannya.

Mereka berdua akhirnya duduk di sebuah coffee shop, tapi si pria sangat gugup untuk berkata apa-apa dan si gadis mulai merasa tidak nyaman dan berkata, “Kita pulang saja?”.

Namun tiba-tiba si pria meminta sesuatu pada sang pramusaji, “Bisa minta garam buat kopi saya?” Semua orang yang mendengar memandang dengan ke arah si pria, aneh sekali! Wajahnya berubah merah, tapi tetap saja dia memasukkan garam tersebut ke dalam kopinya dan meminumnya.

Si gadis dengan penasaran bertanya, “Kenapa kamu bisa punya kebiasaan seperti ini?” Si pria menjawab, “Ketika saya kecil, saya tinggal di daerah pantai dekat laut, saya suka bermain di laut, saya dapat merasakan rasanya laut, asin dan sedikit menggigit, sama seperti kopi asin ini. Dan setiap saya minum kopi asin, saya selalu ingat masa kanak-kanak saya, ingat kampung halaman, saya sangat rindu kampung halaman saya, saya kangen orang tua saya yang masih tinggal di sana.”

Begitu berkata kalimat terakhir, mata si pria mulai berkaca-kaca, dan si gadis sangat tersentuh akan perasaan tulus dari ucapan pria di hadapannya itu. Si gadis berpikir bila seorang pria dapat bercerita bahwa ia rindu kampung halamannya, pasti pria itu mencintai rumahnya, peduli akan rumahnya dan mempunyai tanggung jawab terhadap rumahnya. Kemudian si gadis juga mulai berbicara, bercerita juga tentang kampung halamannya nun jauh di sana , masa kecilnya dan keluarganya.

Suasana kaku langsung berubah menjadi sebuah perbincangan yang hangat juga akhirnya menjadi sebuah awal yang indah dalam cerita mereka berdua.

Mereka akhirnya berpacaran. Si gadis akhirnya menemukan bahwa si pria itu adalah seorang lelaki yang dapat memenuhi segala permintaannya, dia sangat perhatian, berhati baik, hangat, sangat perduli… betul-betul seseorang yang sangat baik tapi si gadis hampir saja kehilangan seorang lelaki seperti itu.

Kopi asin yang ada gunanya.

Kemudian cerita berlanjut seperti layaknya setiap cerita cinta yang indah, sang putri menikah dengan sang pangeran dan mereka hidup bahagia selamanya, dan setiap saat sang putri membuat kopi untuk sang pangeran, ia membubuhkan garam di dalamnya, karena ia tahu bahwa itulah yang disukai oleh pangerannya.

Setelah 40 tahun, si pria meninggal dunia, dan meninggalkan sebuah surat yang berkata, “Sayangku yang tercinta, mohon maafkan saya, maafkan kalau seumur hidupku adalah dusta belaka. Hanya sebuah kebohongan yang
aku katakan padamu tentang kopi asin.”

Ingat sewaktu kita pertama kali jalan bersama? Saya sangat gugup waktu itu, sebenarnya saya ingin minta gula tapi malah berkata garam. Sulit sekali bagi saya untuk mengubahnya karena kamu pasti akan tambah merasa tidak nyaman, jadi saya maju terus. Saya tak pernah terpikir bahwa hal itu ternyata menjadi awal komunikasi kita! Saya mencoba untuk berkata sejujurnya selama ini, tapi saya terlalu takut melakukannya, karena saya telah berjanji untuk tidak membohongimu untuk suatu apapun.

Sekarang saya sekarat, saya tidak takut apa-apa lagi jadi saya katakan padamu yang sejujurnya, saya tidak suka kopi asin, betul-betul aneh dan rasanya tidak enak. Tapi saya selalu dapat kopi asin seumur hidupku sejak bertemu denganmu, dan saya tidak pernah sekalipun menyesal untuk segala sesuatu yang saya lakukan untukmu. Memilikimu adalah kebahagiaan terbesar dalam seluruh hidupku. Bila saya dapat hidup untuk kedua kalinya, saya tetap ingin bertemu kamu lagi dan memilikimu seumur hidupku, meskipun saya harus meminum kopi asin itu lagi.

Air mata si gadis betul-betul membuat surat itu menjadi basah. Kemudian hari bila ada seseorang yang bertanya padanya, apa rasanya minum kopi pakai garam?

Si gadis pasti menjawab, “Rasanya manis.”

Kadang Anda merasa Anda mengenal seseorang lebih baik dari orang lain, tapi hanya untuk menyadari bahwa pendapat Anda tentang seseorang itu bukan seperti yang Anda gambarkan. Sama seperti kejadian kopi asin tadi.

Tambahkan Cinta dan Kurangi Benci karena terkadang garam terasa lebih manis daripada gula.

Sumber : http://www.ebookdahsyat.cjb.net

Older Entries