Kita dapati manusia se-jagad raya pada hari ini, apapun agama dan keyakinannya, berlomba-lomba mencari apa yang dinamakan kebahagiaan. Tak banyak dari mereka yang berhasil mendapatkannya, kalau saja ada, hanya sejenak saja, setelah itu berakhir dengan kesengsaraan yang berkepanjangan. Ini baru di dunia, belum lagi di akhirat kelak?

Sesungguhnya tidak ada kehidupan dan kebahagiaan bagi hati manusia kecuali dengan ikhlash kepada Allah azza wa jalla, dan ucapan yang pantas diungkapkan kepada mereka yang bersungguh-sungguh mencari kebahagiaan tidak melalui pintu keikhlasan adalah sebuah syair Arab yang artinya:

”Apabila ( Usaha ) seorang anak muda tidak dapat pertolongan Allah Maka yang pertama kali mencelakakannya adalah usahanya itu sendiri.”

Sebatas apa akalnya berusaha untuk menggapai kebahagiaan tanpa ikhlash kepada Allah azza wa jalla, maka sebesar itu pulalah ia sengsara dan teradzab.

Sesungguhnya ikhlash kepada Allah azza wa jalla itulah yang menyelamatkan tubuh dan jiwa dari setiap siksa? Ini bukanlah kata-kata bualan saja, akan tetapi merupakan pengalaman nyata yang dialami sebaik-baik manusia para Nabi dan Rasul, serta hasil pengalaman para Sahabat dan Tabi`in, sehingga mereka menang, beruntung sejak di dunia, adapun di akhirat nanti, mereka akan mendapatkan sesuatu kelezatan dan kebahagiaan yang tidak pernah disaksikan oleh mata, di dengar oleh telinga, bahkan tidak pernah terlintas di benak manusia.

Dengan demikian semakin jelaslah arti penting dari keikhlasan yang akan kita bahas kali ini. Semoga kita semua termasuk orang-orang yang benar-benar mendapatkan kebahagiaan yang hakiki lagi abadi sejak di dunia maupun di akhirat kelak.[1]

Adapun makna ikhlas itu sendiri, para `Ulama mempunyai beberapa ungkapan tatkala mendefenisikannya. tapi tetap mengarah kepada satu makna, diantaranya :

1. Ikhlash ialah memurnikan tujuan atau niat dari semua cela dan noda ketika mendekatkan diri kepada Allah azza wa jalla.
2. Yang lain mengatakan ikhlash itu adalah menjadikan Allah azza wa jalla sebagai satu-satunya tujuan dalam ketaatan.
3. Ada pula yang mendefiisikan ikhlash itu ialah mengabaikan pandangan makhluk dan mengaharapkan pandangan sang pencipta semata.[2]

Allah ta`ala telah memerintahkan untuk selalu ikhlash dalam firmanNya:

وَما أُمِروا إِلّا لِيَعبُدُوا اللَّهَ مُخلِصينَ لَهُ الدّينَ حُنَفاءَ وَيُقيمُوا الصَّلوٰةَ وَيُؤتُوا الزَّكوٰةَ ۚ وَذٰلِكَ دينُ القَيِّمَةِ

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat ; dan yang demikian itulah agama yang lurus.( QS.Al-Bayyinah: 5 )

Saudara muslim, sebelum melangkah lebih jauh, hendaknya kita ketahui dulu jalan yang dengannya kita bisa selamat. Sehingga kita tidak terbebani dengan banyaknya amalan yang melelahkan namun tidak bermanfaat kecuali ‘capek’nya saja di dunia serta menuai siksa di akhirat kelak.
Hadits Nabi :
“ Berapa banyak orang yang berpuasa tapi tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali laparnya saja, dan berapa banyak orang yang melaksanakan shalat tarawih tapi tidak dapat apa-apa kecuali begadangnya saja”. ( HR. Ibnu Majah. di sohihkan Syekh Al-Bani Rahimahullah di kitab shahihul Jami` no: 3482 )

Maka sebelum kita melakukan sesuatu apapun hendaknya kita tahu apa sih persyaratan diterimanya sebuah amal. Para ulama telah sepakat bahwa ada dua syarat nan sangat penting dan agung yang mesti dilengkapi agar sebuah amal bisa diterima di sisi-NYA.

Pertama : Niat orang yang melakukan amal tersebut semata-mata untuk mencari wajah Allah `Azza wa Jalla. yang disingkat dengan istilah Ikhlash.
Kedua : Tata cara pelaksanaan amal tersebut harus sesuai dengan apa yang disyari`atkan Allah azza wa jalla di dalam Al-Qur`an dan sesuai dengan apa yang di terangkan oleh RasulNya di dalam sunnahnya. yang sering disebut dengan kata Al-Mutab`ah .

Allah azza wa jalla berfirman:

فَمَن كانَ يَرجوا لِقاءَ رَبِّهِ فَليَعمَل عَمَلًا صٰلِحًا وَلا يُشرِك بِعِبادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

“….Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya”(Q.S.Al-Kahfi : 110 )

Fudhail Bin `Iyadh dan Imam Ibnu Katsir Rahimahumallah berkata : “ Maksudnya adalah yang paling ikhlash dan paling benar amalnya.” “Orang-orang bertanya , Wahai Abu Ali, amal apa yang paling ikhlas dan benar?” Ia menjawab: “ Amal yang ikhlas tapi tidak benar, tidak akan diterima Allah azza wa jalla. Demikian sebaliknya, jika benar tapi tidak ikhlas, juga tidak akan diterima, sampai amalan itu dilakukan dengan ikhlas dan benar. Amal yang ikhlas adalah amalan yang dikerjakan hanya untuk Allah semata, sedangkan yang benar adalah amal yang sesuai dengan sunnah.” [3]

Maka jadikanlah kaidah dan prinsip di dalam hidup kita bahwa jika kita mau kerja, mau bicara, mau apa saja… harus dengan ikhlas, bahkan niat sekalipun harus ikhlas. Lawan dari ikhlas itu ialah syirik, riya dan sum`ah, ujub serta hal-hal yang dapat mengotori kemurnian keikhlasan dan membatalkan amal.
Tentu ketika Allah azza wa jalla memerintahkan hambanya untuk ikhlas pasti karena di dalamnya terkandung hikmah dan keutamaan yang agung, dan dapat menjamin Assa`adah al-haqiqiyah ( kebahagiaan sejati ) bagi hambanya. Sebaliknya, dengan mengabaikan keikhlasan ini, akan mengakibatkan petaka dan kehancuran serta penderitaan yang sebenarnya pula.

Diantara manfaat keikhlasan kepada Allah azza wa jalla ialah :

1. Keikhlasan dapat melepaskan seseorang dari belitan, makar, dan tipu daya setan. Hal ini berdasarkan firman Allah azza wa jalla mengungkapkan pernyataan Iblis: “…pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka”.( QS.Al-Hijr:39- 40 ). Seorang shaleh pernah berkata kepada jiwanya: Wahai diriku, ikhlaslah niscaya kamu akan selamat ( dari setan) .[4]
2. Ikhlas sesaat bisa menyelamatkan seseorang dari siksa yang abadi. Diantara Ulama ada yang berkata: “ Ikhlas sesaat bisa menyebabkan keselamatan untuk selamanya, akan tetapi, ikhlas itu barang langka. Maka, siapa yang menginginkan ikhlas, hendaklah ia memutus cinta syahwat dari hatinya, memenuhinya dengan cinta Allah, dan mencurahkan perhatiannya untuk akhirat.”
3. Salah satu kunci kemenangan ummat Islam. Berdasarkan hadits Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam:“ Sesungguhnya Allah menolong ummat ini karena orang-orang yang lemah : dengan doa, shalat dan keikhlasan mereka.” ( Sohihut targib wattarhiib, 1/ 1 )

Berkata Syekh Husein Al-`Awayisyah Hafizahullahu Ta`ala : “ Sebagaimana juga Allah azza wa jalla menolong agamanya dengan taqwanya orang yang bertaqwa, harta orang yang memiliki harta dan keikhlasan orang yang ikhlas.

Demikianlah, betapa besarnya ganjaran yang diberikan oleh Allah bagi kaum muslimin yang dalam melakukan segala sesuatu kebaikan ikhlas karena Allah. Maka, berbahagilah pemilik hati yang ikhlash. Wallhu A`alam bissowab.

Ustadz.Abu Ashim, Lc
sumber: majalah As-Saliim edisi 2 September 2008
__________________________

______________
[1] Kitab Al-Ikhlash, Syekh Husain Al-`Awayisyah hal: 5-6.
[2] Kitab Al-Ikhlash, Syekh Husein Al-`Awayisyah Hal: 118. dan lihat Olahraga Hati, Dr. Ahmad Farid hal: 21. serta kitab Tazkiyatun Nafs, Dr Ahmad Farid juga hal: 11.
[3] Ighotsatul Lahfan , Ibnul Qoyim . Olahraga hati hal: 19. dan Tafsir Ibnu katsir surah alkahfi. kitab Al-Ikhlas hal : 10.
[4] Olah raga Hati hal: 21. dan Tazkiyatun Nafs hal: 18.
Shared By Catatan Catatan Islami Pages