Google Suggestion giring pengguna dari pencarian sesungguhnya ke pencarian terpopuler.

Google Suggestion (google.com)

VIVAnews – Saran pencarian Google ternyata tak selamanya musti kita ikuti.

Sebab menurut sebuah riset, saran Google melalui fitur Google Suggestion, seringkali menggeser arti kata yang dicari dari makna sebenarnya.

“Fitur Google ini mungkin dimaksudkan untuk membantu orang dalam pencarian, namun dari perspektif diskursus publik, ini mengkhawatirkan,” kata Profesor Dominique Brossard, pakar komunikasi dari University Wisconsin-Madison yang terlibat dalam penelitian ini, pada situs web universitasnya.

Menurut Brossard, saran Google suggestion mengalihkan para penggunanya dari mendapatkan hasil pencarian sesungguhnya, ke hasil pencarian yang sedang populer.

Misalnya saat pengguna mencari kata ‘tiger’ maka Google malah menawarkan pencarian ‘tiger woods’. Saat hendak mencari kata ‘fauna’ dan baru saja mengetik huruf ‘f’, Google malah menyarankan ‘facebook’.

“Sergey Brin dan Larry Page menciptakan Google untuk memfilter hasil pencarian, sebagian berdasarkan pada situs yang paling populer. Ini berarti pengguna internet akan ditawarkan hasil pencarian ke situ yang paling populer daripada disodorkan hasil pencarian yang representatif untuk informasi sains,” kata Brossard.

Dalam penelitian yang dilaksanakan sejak Oktober 2008 hingga September 2009 itu, Brossard dan empat rekannya dari Wisconsin-Madison mempelajari data-data Google mengenai artikel yang berhubungan dengan nanoteknologi.

Mereka menemukan bahwa pembahasan tentang nanoteknologi juga mengalami pengaburan. Sebab saat diketik kata ‘nanotechnology’ Google suggestion menyarankan pencarian ‘nanotechnology and health’ di posisi teratas. Oleh karenanya, sebagian besar orang gagal mendapatkan gambaran besar dari nanoteknologi.

Saran Google Suggestion

“Dengan mengeklik saran Google itu, Anda akan memperkuat saran ‘nanotechnology and health’ untuk tetap diatas. Padahal  kesehatan hanya merupakan sebagian kecil dari nanoteknologi ini,” kata Brossard.

Dietram Scheufele, rekan peneliti Brossard, mengatakan, Google adalah mesin telusur yang paling populer dengan pangsa pasar sekitar 64 persen, diikuti dengan Yahoo (16.3 persen).

“Selain mengindeks dan menyediakan hasil pencarian, Google seharusnya juga memiliki peran aktif untuk menuntun dan mengarahkan pencarian melalui ke arah yang relevan.”

Nanoteknologi sendiri, secara umum adalah penelitian dan pengembangan yang terkait dengan rekayasa material yang memiliki ukuran molekul berskala nanometer (10 pangkat -9).

Materi-materi nano berhubungan dengan properti-properti yang tak terlihat pada materi biasa. Pakar ekonomi memprediksikan,  pada 2030 volume pasar nano material, mulai dari elektronik hingga kosmetik, adalah sekitar US$3 triliun atau sekitar Rp 27 ribu triliun. (hs)

• VIVAnews