Menkominfo dinilai memanfaatkan situasi untuk kembali mengontrol internet.

(Gerakan Tolak RPM Konten di Twitter)

VIVAnews – Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia menolak rencana Menteri Komunikasi dan Informatika untuk melanjutkan pembahasan Rancangan Peraturan Menteri tentang Konten Multimedia.

Meski saat ini muncul halaman event di Facebook yang mengajak orang mengikuti lomba menggambar wajah Nabi Muhammad SAW (Everybody Draw Muhammad Day!), akan tetapi itu tidak bisa dijadikan alasan untuk mensensor, memblokir, dan memfilter internet.

AJI Indonesia menilai, Menkominfo terkesan memanfaatkan situasi ini untuk kembali mengontrol internet.

Seperti pernah disampaikan AJI sebelumnya, RPM Konten Multimedia mewajibkan ISP melakukan filtering dan bloking konten-konten yang dinilai illegal. Dalam RPM itu, juga rencananya akan dibentuk Tim Konten Multimedia yang de facto akan berfungsi sebagai lembaga sensor.

“Adanya konten yang menyinggung umat Islam bukan berarti memberi legitimasi Menkominfo untuk menyensor seluruh konten internet,” kata Nezar Patria, Ketua AJI Indonesia, pada keterangannya, Kamis 20 Mei 2010.

AJI Indonesia menentang segala bentuk penyalahgunaan ruang kebebasan berekspresi seperti jejaring sosial Facebook untuk menyulut konflik dan menyebarkan kebencian seperti halaman event tersebut.

Ruang kebebasan berekspresi harus dimanfaatkan secara positif. Jejaring sosial seperti Facebook semestinya digunakan untuk merekatkan kohesi sosial umat manusia, bukan untuk kegiatan antisosial yang memancing konflik.

Namun AJI Indonesia juga menentang upaya memanfaatkan kasus halaman event di Facebook tersebut untuk mengesahkan regulasi yang antidemokrasi. (art)

• VIVAnews