VIVAnews – Lembaga riset IDC dan BSA (business software alliance) baru saja mengeluarkan laporan tahunan ketujuh untuk 2009. Dalam laporan tersebut, Georgia lagi-lagi “sukses” menyandang predikat sebagai negara pembajak piranti lunak (software) terbesar di dunia.

Menurut laporan yang dirilis Mei 2010 tersebut, Negara Trans Benua Eropa dan Asia itu mencatat tingkat pembajakan hingga 95 persen, lebih buruk ketimbang Zimbabwe, Bangladesh, dan Moldova, yang menyusul di posisi kedua dan ketiga dengan tingkat pembajakan masing-masing 92 persen dan 91 persen.

Sebagai perbandingan, Indonesia berada di peringkat kedelapan dengan tingkat pembajakan sekitar 86 persen.

Namun, jika berbicara soal nilai komersial software ilegal, berdasarkan laporan yang sama, Georgia bukanlah negara terburuk mengingat penetrasi PC di negara mungil ini tak cukup besar. Bahkan, nilai komersial software ilegal di negara pecahan Uni Soviet tersebut tidak sampai US$ 272 juta.

Untuk masalah nilai komersial ilegal, Amerika Serikat justru menjadi “juara”-nya. Sepanjang tahun lalu, negara adikuasa tersebut mencatat potensi kerugian terbesar sampai US$ 8.930 juta, atau setara Rp 81,1 triliun.

Menyusul AS, di posisi kedua adalah China dengan nilai komersial software ilegal mencapai US$ 7.583 juta, atau setara Rp 68,9 triliun. Sedangkan Rusia bertengger di posisi ketiga dengan mencatat US$ 2.613 juta, atau setara Rp 23,7 triliun.

Sebagai perbandingan, Indonesia mencatat nilai komersial software bajakan sampai US$ 886 juta atau setara Rp 8 triliun.

Secara total, nilai komersial software ilegal di seluruh dunia telah melampaui US$ 50 miliar, tepatnya sekitar US$ 51,4 miliar, atau setara Rp 467,2 triliun.

Untuk global, tingkat pembajakan meningkat dua persen, dari 41 persen pada 2008 menjadi 43 persen selama 2009.

Sementara itu, di skala Asia Pasifik, dari 900 juta software PC yang dikapalkan, menurut IDC, 59 persen di antaranya adalah software bajakan, kurang lebih 530 juta. Jepang, Selandia Baru, Australia, dan Singapura merupakan negara dengan tingkat pembajakan terendah.

Sementara Bangladesh dan Indonesia adalah dua negara dengan tingkat pembajakan terburuk. (art)

• VIVAnews