VIVAnews – Ilse Aigner, Menteri perlindungan konsumen Jerman menyatakan kekhawatirannya seputar kebijakan privasi Facebook. Untuk itu ia menuliskan surat terbuka pada perusahaan pembuat situs jejaring sosial tersebut.

Aigner khawatir tentang pengumuman yang dilakukan Facebook baru-baru ini bahwa mereka akan melakukan perubahan dan memungkinkan situs itu membagi informasi pribadi dengan situs pihak ketiga yang ‘disetujui’ sebelumnya. Padahal, dari survey yang dilakukan Sophos, perusahaan spesialis pengamanan, 95 persen pengguna tidak menyetujui perubahan setting privasi yang akan dilakukan Facebook.

Penyebaran informasi ini memicu kekhawatiran pula di seluruh dunia maya. Dan melihat kenyataan bahwa perwakilan pemerintah sudah menyoroti permasalahan tersebut, tentunya Mark Zuckerberg perlu mempertimbangkan kembali rencananya.

“Saya sangat terkejut saat mengetahui bahwa, meskipun sudah banyak kritik dan kekhawatiran dari aktivis pengguna, Facebook masih akan mengendurkan peraturan keamanan data di jaringan mereka lebih lanjut,” kata Aigner, seperti VIVAnews kutip dari AllFacebook, 10 April 2010.

“Jejaring sosial seperti Facebook menghubungkan jutaan pengguna di seluruh dunia, dan ini merupakan alasan pentingnya melindungi privasi pengguna,” ucap Aigner.

Facebook sendiri sudah menyiapkan pembelaan. Mereka menyatakan bahwa pengguna bisa memilih untuk tidak membagikan data mereka. Meski demikian, secara default, data pengguna akan bisa diakses oleh situs pihak ketiga. Kecuali kalau pengguna menyadari hal ini dan mengubah setting privasi mereka.

Tanpa bermaksud bercanda, Aigner sendiri mengancam akan menutup akun Facebook pribadinya jika situs jejaring sosial itu tetap melangsungkan perubahan. Sayangnya, banyak pengguna di luar sana yang sudah mencoba berhenti berinteraksi di Facebook, namun gagal.

• VIVAnews